-->
Cahaya Ilmu, Penenang Qolbu

Mecari cahaya dalam cahaya

Detik-detik Kelahiran Nabi Muhammad Saw.


Al-Imam Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami asy-Syafi’i dalam kitabnya an-Ni’mat al-Kubra ‘ala al-‘Alam halaman 61 telah menyebutkan:
“Sesungguhnya pada bulan kesembilan kehamilan Sayyidah Aminah (bulan Rabi’ul Awwal), saat hari-hari kelahiran Nabi Saw. sudah semakin dekat, Allah Swt. semakin melimpahkan berbagai macam anugerahNya kepada Sayyidah Aminah. Mulai malam tanggal 1 hingga malam tanggal 12 Bulan Rabi’ul Awwal malam kelahiran Rasulullah Saw.
·         Malam tanggal 1 Allah Swt. melimpahkan segala kedamaian dan ketentraman yang luar biasa kepada Sayyidah Aminah, sehingga dirasakan ketenangan dan kesejukan jiwa yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
·         Malam tanggal 2 datang seruan berita gembira kepadanya bahwa sebentar lagi dirinya akan mendapati anugerah agung yang luar biasa dari Allah Swt.
·         Malam tanggal 3 datang seruan memanggil kepadanya: “Wahai Aminah, sudah dekat saatnya Engkau akan melahirkan Nabi Agung Rasulullah Muhammad Saw. yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah Swt.”
·         Malam tanggal 4 Sayyidah Aminah mendengar beraneka ragam tasbih para malaikat secara nyata dan sangat jelas sekali.
·         Malam tanggal 5 Sayyidah Aminah mimpi bertemu dengan Nabiyyullah Ibrahim As. Khalilullah.
·         Malam tanggal 6 Sayyidah Aminah melihat cahaya Rasulullah Saw. memenuhi segala penjuru alam semesta.
·         Malam tanggal 7 Sayyidah Aminah melihat para malaikat silih berganti saling berdatangan mengunjungi kediamannya membawa kabar gembira, sehingga kebahagiaan dan kedamaiannya semakin memuncak.
·         Malam tanggal 8 Sayyidah Aminah mendengar seruan memanggil di mana-mana, suara tersebut sangat jelas mengumandangkan: “Berbahagialah wahai seluruh penghuni alam semesta, telah dekat saat kelahiran Nabi Agung Kekasih Allah Swt. Pencipta alam semesta.”
·         Malam tanggal 9 Allah Swt. semakin mengucurkan limpahan belas kasih sayangNya kepada Sayyidah Aminah, sehingga tidak ada sedikitpun rasa sedih, susah atau sakit dalam diri dan jiwa Sayyidah Aminah.
·         Malam tanggal 10 Sayyidah Aminah melihat tanah Khaif dan Mina ikut bergembira ria menyambut kelahiran Baginda Nabi Muhammad Saw.
·         Malam tanggal 11 Sayyidah Aminah melihat seluruh penghuni langit dan bumi ikut bersuka cita menyongsong kelahiran Nabi Besar Muhammad Saw.
·         Maka, pada malam 12 Rabi’ul Awwal, langit dalam keadaan cerah tanpa ada mendung sedikitpun. Saat itu Syaikh Abdul Muthallib sedang bermunajat kepada Allah Swt. di sekitar Ka’bah dan Sayyidah Aminah sendirian di rumah tanpa ada seorangpun yang menemaninya. Tiba-tiba Sayyidah Aminah melihat tiang rumahnya terbelah dan perlahanan-lahan muncul empat wanita yang sangat anggun nan cantik jelita dan diliputi cahaya yang memancar berkilauan serta semerbak harum wewangian memenuhi seluruh ruangan.
Tiba-tiba wanita pertama datang dan berkata kepada Sayyidah Aminah: “Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung junjungan alam semesta Muhammad Saw. Kenalilah olehmu sesungguhnya aku ini adalah Hawa, ibunda seluruh umat manusia. Aku diperintahkan Allah Swt. untuk menemanimu.”
Kemudian Sayyidah Hawa duduk di samping kanan Sayyidah Aminah. Dan mendekat lagi wanita yang kedua kepada Sayyidah Aminah untuk menyampaikan kabar gembira kepadanya: “Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Baginda Nabi Muhammad Saw., seorang Nabi Agung yang dianugerahi Allah Swt. kesucian yang sempurna pada diri dan kepribadiannya. Nabi Agung yang ilmunya sebagai sumber seluruh ilmunya para nabi dan para kekasih Allah Swt. Nabi Agung yang cahayanya meliputi seluruh alam. Dan ketahuilah olehmu wahai Aminah, sesungguhnya aku ini adalah Sarah istri Nabiyyullah Ibrahim As. Aku diperintahkan Allah Swt. untuk menemanimu.”
Kemudian Sayyidah Sarah duduk di sebelah kiri Sayyidah Aminah. Maka, wanita ketigapun mendekat dan menyampaikan berita gembira kepadanya: “Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung Muhammad Saw. Kekasih Allah Swt. yang paling agung, dan insan sempurna yang paling utama mendapati pujian dari Allah Swt. dan dari seluruh makhukNya. Perlu engkau ketahui sesungguhnya aku adalah Asiyah binti Muzahim yang diperintahkan Allah Swt. untuk menemanimu.”
Kemudian sayyidah Asiyah binti Muzahim tersebut duduk di belakang Sayyidah Aminah. Sejenak Sayyidah Aminah semakin kagum, karena wanita yang ke empat adalah lebih anggun berwibawa dan memiliki kecantikan luar biasa. Kemudian mendekat kepada Sayyidah Aminah untuk menyampaikan kabar gembira:
“Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah. Tidak ada di dunia ini wanita yang mendapati kemuliaan dan keberuntungan seperti engkau. Sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi Agung Muhammad Saw. yang dianugerahi Allah Swt. berbagai macam mukjizat yang sangat agung dan sangat luar biasa. Beliaulah junjungan seluruh penghuni langit dan bumi. Hanya untuk beliaulah semata segala bentuk shalawat Allah Swt. dan salam sejahteraNya yang sempurna. Ketahuilah olehmu wahai Aminah, sesungguhnya aku adalah Maryam ibunda Nabiyyullah Isa As. Kami semua ditugaskan Allah Swt. untuk menemanimu demi menyambut kehadiran Baginda Rasulullah Muhammad Saw.”
Kemudian Sayyidah Maryam duduk mendekatkan diri di depan Sayyidah Aminah. Maka keempat wanita suci mulia nan agung tersebut merapat dan mengelilingi diri ibunda Rasulullah Saw., Sayyidah Aminah binti Wahab. Sehingga Sayyidah Aminah semakin memuncak rasa kedamaian dan kebahagiaan dalam jiwanya. Kebahagiaan dan keindahan yang dialami oleh ibunda Rasulullah Saw. saat itu tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata. Dan peristiwa demi peristiwa yang sangat agung semakin Allah Swt. limpahkan demi penghormatan besar kepada Baginda Rasulullah Muhammad Saw.
Keajaiban berikutnya adalah Sayyidah Aminah melihat sekelompok demi sekelompok manusia bercahaya saling berdatangan silih berganti memasuki ruangan Sayyidah Aminah dan mereka memanjatkan pujian dan tasbih kepada Allah Swt. dengan berbagai macam bahasa yang berbeda-beda.
Detik berikutnya adalah Sayyidah Aminah melihat atap rumahnya terbuka dan terlihat oleh beliau berbagai macam bintang-bintang di angkasa raya yang sangat indah berkilauan yang saling berterbangan di langit ke segenap penjuru angkasa yang sangat cerah dipenuhi cahaya.
Selanjutnya, Allah Swt. limpahkan mandat khusus kepada Malaikat Jibril As. untuk mengemban tugas agung dalam momen yang paling agung dan bersejarah bagi seluruh makhluk Allah Swt. Allah Swt. berfirman kepadanya:
يا جبريل صف راح الأرواح في أقداح الشراب يا جبربل انشر سجادات القرب والوصال لصاحب النور والرفعة والإتصال يا جبريل مر مالكا أن يغلق أبواب النيران يا جبريل قل لرضوان أن يفتح أبواب الجنان يا جبريل البس حلة الرضوان يا جبريل اهبط إلى الأرض بالملائكة الصافين والمقربين والكروبيين والحافين يا جبريل ناد في السموات والأرض في طولها والعرض قد آن أوان اجتماع المحب بالمحبوب والطالب بالمطلوب
“Hai Jibril, serukanlah kepada seluruh arwah suci para nabi, para rasul dan para wali agar berkumpul berbaris rapi menyambut kedatangan Nabi Agung Muhammad Saw. Hai Jibril, bentangkanlah hamparan kemuliaan dan keagungan derajat al-Qurb dan al-Wishal kepada Nabi Agung Muhammad Saw. yang memiliki nur dan maqam luhur di sisiKu. Hai Jibril, perintahkanlah kepada Malaikat Malik agar menutup semua pintu neraka. Hai Jibril, perintahkanlah kepada Malaikat Ridhwan agar membuka seluruh pintu surga. Hai Jibril, pakailah olehmu Hullah ar-Ridhwan (pakaian khusus yang diliputi keridhaan Allah) demi menyambut kekasihKu Nabi Agung Muhammad Saw. Hai Jibril, turunlah ke bumi dengan membawa seluruh pasukan malaikat, para Malaikat Muqarrabin, para Malaikat Karubiyyin, para Malaikat yang selalu mengelilingi ‘Arsy, suruh mereka semua turun ke bumi dan berbaris rapi demi memuliakan dan mengagungkan kedatangan kekasihKu Nabi Agung Muhammad Saw. Hai Jibril, kumandangkanlah seruan di seluruh penjuru langit hingga lapis ke tujuh dan di segenap penjuru bumi hingga lapisan paling dalam, beritakan kepada seluruh makhlukKu bahwa sesungguhnya sekarang telah tiba saatnya kedatangan nabi akhir zaman, nabi agung kekasih Allah Swt., Baginda Nabi Muhammad Saw.”
Kemudian seketika itu pula Malaikat Jibril As. secepat kilat langsung melaksanakan seluruh mandat khusus dan agung dari Allah Swt. tersebut. Serentak beliau bawa seluruh pasukan malaikat turun ke bumi hingga memenuhi seluruh gunung-gunung Makkah dan berbaris rapi meliputi seluruh tanah suci Makkah. Sayap-sayap mereka terlihat laksana mega-mega putih berkilauan memenuhi angkasa. Dan saat itu pula seluruh hewan-hewan yang ada di segenap penjuru di bumi, di lautan dan di angkasa bersuka cita demi menyambut kedatangan Baginda Nabi Muhammad Saw.
Sayyidah Aminah berkata: “Saat itu pula, dengan izin Allah Swt., terlihat jelas olehku gedung-gedung yang ada di Syiria dan Palestina. Aku juga melihat tiga pilar bendera yang dibawa oleh para malaikat; satu ditancapkan di jagad timur, satu lagi ditancapkan di jagad barat dan yang satunya lagi di atas Ka’bah Baitullah. Dalam keadaan yang dipenuhi oleh misteri segala keajaiban yang sedemikian rupa, seketika pula datang serombongan burung-burung bercahaya yang indah memenuhi ruanganku, datang silih berganti. Paruh dan sayapnya adalah berupa mutiara zamrud dan yaqut yang indah sekali. Burung-burung tersebut menebarkan berbagai macam mutiara dan permata yang beraneka ragam indahnya di ruanganku. Setelah itu mereka serentak memuji dan bertasbih kepada Allah Swt.
Dan aku lihat pula para malaikat datang bergerombolan dan silih berganti sambil membawa mabkharah (tempat dupa) berupa emas merah dan emas putih yang berisikan dupa-dupa wewangian sorga yang semerbak harum baunya memenuhi seluruh jagad raya, sambil bergemuruh suara mereka mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi Agung Rasulullah Muhammad Saw.
Seketika itu pula aku lihat bulan terbelah di atasku laksana qubah. Bintang-bintang gemerlapan berjajar rapi di atas kepalaku laksana mata rantai emas intan permata. Dan tiba-tiba telah ada di sisiku secangkir minuman putih bening melebihi susu. Ketika aku meminumnya, terasa nikmat sekali, kelezatan manisnya melebihi gula dan madu dan kesejukkannya melebihi salju. Seketika itu lepaslah segala dahagaku. Sangat terasa nikmat, segar dan lezat sekali yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Keluarlah cahaya yang luar biasa meliputi diriku. Kemudian datanglah burung putih berkilauan cahaya mendekati dan mengusapkan sayapnya pada diriku. Saat itulah tanda-tanda kelahiran mulai aku rasakan dan aku bersandar pada para wanita yang ada di sekelilingku. Maka lahirlah nabi agung akhir zaman, kekasih Allah Swt. yang sempurna, Rasulullah Muhammad Saw. Dan saya tidak melihat kecuali hanya sinar cahaya yang sangat agung.
Tidak lama kemudian, aku melihat putraku (Rasulullah Saw.) telah berada di sampingku terselimuti dengan sutera putih di atas hamparan sutera hijau dalam keadaan sujud mengiba ke hadirat Allah Swt. dengan mengangkat jari telunjuknya. Dan saya mendengar Rasulullah Saw. mengucapkan:
ألله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا
“Allah Maha Besar dengan segala keagunganNya. Segala Puji bagi Allah atas segala anugerahNya. Maha Suci Allah kekal abadi selama-lamanya.”
Pada saat itulah semakin memuncak kegembiraan seluruh penghuni alam semesta. para malaikat, para nabi, para wali, para bidadari dan seluruh makhluk Allah Swt. yang ada di daratan, lautan, angkasa, bumi, bintang-bintang, bulan, matahari, langit, Kursiy dan ‘Arsy, seluruhnya benar-benar meluapkan kegembiraan dan memuncakkan shalawat ta’dzim kepada kekasih Allah Swt., nabi akhir zaman, Baginda Rasulullah Muhammad Saw. Dan bahkan Ka’bah Baitullah ikut bergetar selama 3 hari berturut-turut karena bahagia dan bangga menyambut kelahiran Baginda Nabi Muhammad Saw.
Disebutkan dalam Maulid ad-Daiba’i karya al-Imam Abdurrahman ad-Daiba’i halaman 192 dan 193:
فاهتز العرش طربا واستبشارا وازداد الكرسي هيبة ووقارا وامتلأت السموات أنوارا وضجت الملائكة تهليلا وتمجيدا واستغفارا
“Sesungguhnya (pada saat kelahiran Nabi Saw.), ‘Arsy seketika bergetar hebat meluapkan kebahagiaan dan kegembiraannya. Dan Kursiy juga semakin tambah kewibawaan dan keagungannya. Dan seluruh langit dipenuhi cahaya yang bersinar terang dan para malaikat seluruhnya serentak bergemuruh memanjatkan tahlil, tamjid dan istighfar kepada Allah Swt. dengan mengucapkan:
سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر أستغفر الله
“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, saya beristighfar (memohon ampun) kepada Allah Swt.”
Sesungguhnya dengan keagungan Rasulullah Saw. di sisi Allah Swt., maka Allah Swt. telah memerintahkan kepada para malaikatNya yang agung yakni Malaikat Jibril, Malaikat Muqarrabin, Malaikat Karubiyyin, Malaikat yang selalu mengelilingi ‘Arsy dan lainnya agar serentak berdiri pada saat detik-detik kelahiran Baginda Nabi Muhammad Saw. dengan memanjatkan tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan istighfar kepada Allah Swt.
Semua fenomena keajaiban-keajaiban agung yang terjadi pada saat detik-detik kelahiran Nabi Saw. yang diwujudkan oleh Allah Swt., semata-mata hanya menunjukkan kepada semua makhlukNya bahwa Nabi Saw. adalah makhluk yang paling dicintaiNya, makhluk yang paling agung dan mulia derajatnya di sisiNya.
Ya Nabi Salam Alaika... 
Ya Rosul Salam Alaika... 
Ya Habib Salam Alaika... Sholawatullah Alaika...

اللهم صل على سيدنا محمد النبي الامي وعلى اله وصحبه وسلم...
(Sumber: kitab Nur al-Musthafa jilid 1 karya al-Habib Murtadha bin Abdullah bin Ahmad al-Kaff yang dikutip dari kitab al-Hawi li al-Fatawi karya al-Imam as-Suyuthi, Dalail an-Nubuwwah karya al-Imam al-Baihaqi, Dalail an-Nubuwwah karya al-Imam Abu Na’im al-Ashfahaniy, an-Ni’mat al-Kubra ‘ala al-‘Alam karya al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Sabil al-Iddikar karya al-Imam al-Quth al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad, al-Ghurar karya al-Imam al-Habib Muhammad bin Ali bin Alawi Khird Ba’Alawi, asy-Syifa’ karya al-Imam al-Qadli ‘Iyadh, as-Sirah an-Nabawiyyah karya al-Imam as-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Hujjatullah ‘ala al-‘Aalamin karya asy-Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhaniy dan kitab-kitab lainya yang mu’tamad dan mu’tabar).

Kisah Orang yang mengatakan maulid nabiI BID’AH SAYYI`AH


Oleh KH. Abdullah Afif
(Diceritakan oleh Sayyid Alawi Al-Maliki dari abahnya, Sayyid Abbas Al-Maliki Rahimahumallaahu ta'aalaa)

تَنْبِيْهٌ
PERINGATAN
حَكَى السَّيِّدُ عَلَوِي اَلْمَالِكِيُّ أَنَّ وَالِدَهُ اَلْمَرْحُوْمَ السَّيِّدَ عَبَّاسْ اَلْمَالِكِيَّ رَحِمَهُ اللهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ حَضَرَ فِيْ بَيْتِ الْمَقْدِسِ اِحْتِفَالًا نَبَوِيًّا لَيْلَةَ عِيْدِ الْمِيْلَادِ النَّبَوِيِّ تُلِيَ فِيْهِ مَوْلِدُ الْبَرْزَنْجِيِّ فَإِذَا رَجٌلٌ أَشْيَبُ قَامَ بِغَايَةِ الْأَدَبِ مِنْ أَوَّلِ الْمَوْلِدِ إِلَى نِهَايَتِهِ وَأَفَادَهُ لَمَّا سَأَلَهُ عَنْ سَبَبِ وُقُوْفِهِ مَعَ كِبَرِ سِنِّهِ بِأَنَّه كَانَ لَا يَقُوْمُ عِنْدَ ذِكْرِ الْمِيْلَادِ النَّبَوِيِّ وَيَعْتَقِدُ أَنَّهُ بِدْعَةٌ سَيِّئَةٌ فَرَأَى فِيْ نَوْمِهِ أَنَّهُ مَعَ جَمَاعَةٍ مُتَهَيِّئِيْنَ لِاسْتِقْبَالِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا طَلَعَ لَهُمْ بَدْرُ مُحَيَّاهُ وَنَهَضَ الْجَمِيْعُ لِاسْتِقْبَالِهِ لَمْ يَسْتَطِعْ هُوَ الْقِيَامَ لِذَلِكَ وَقَالَ لَهُ الرَّسُوْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ لَا تَسْتَطِيْعُ الْقِيَامَ فَمَا اسْتَيْقَظَ إِلَّا وَهُوَ مُقْعَدٌ وَبَقِيَ عَلَى هَذَا الْحَالِ عَامًا فَنَذَرَ إِنْ شَفَاهُ اللهُ مِنْ مَرَضِهِ هَذَا يَقُوْمُ مِنْ أَوَّلِ قِرَاءَةِ الْمَوْلِدِ إِلَى غَايَتِهِ (نِهَايَتِهِ) فَعَافَاهُ اللهُ مِنْ ذَلِكَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِمًا بِوَفَاءِ نَذْرِهِ تَعْظِيْمًا لَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Sayyid Alawi Al-Maliki menceritakan bahwasanya abah beliau, Sayyid Abbas Al-Maliki memberi khabar kepada beliau sesungguhnya abah beliau (sayyid Abbas Al-Maliki) berada di Baitul Maqdis untuk menghadiri peringatan Maulid Nabi pada malam ‘ied Milad An-Nabawi, di mana saat itu dibacakan Maulid Al-Barzanji.
Saat itulah beliau melihat seorang pria tua beruban yang berdiri dengan khidmat penuh adab mulai dari awal sampai acara selesai. Kemudian beliau bertanya kepadanya akan sikapnya itu, yaitu berdiri sementara usianya sudah tua.
Lelaki tua itu bercerita bahwa dulu ia tidak mau berdiri pada acara peringatan Maulid Nabi dan ia memiliki keyakinan bahwa perbuatan itu adalah bid'ah sayyi'ah (bid'ah yang jelek)
Suatu malam ia bermimpi dalam tidurnya. Dia bersama sekelompok orang yg bersiap-siap menunggu kedatangan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka saat cahaya wajah beliau yang bagaikan bulan purnama muncul, sekelompok orang itu bangkit dengan berdiri menyambut kehadiran Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam
Namun hanya ia saja seorang diri yang tidak mampu bangkit untuk berdiri. Lalu Rasullullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: "Kamu tidak akan bisa berdiri" Saat ia bangun dari tidurnya ternyata ia dalam keadaan duduk dan tidak mampu berdiri. Hal ini ia alami selama 1 (satu) tahun.
Kemudian ia pun bernadzar jika Allah menyembuhkan sakitnya ini, ia akan berdiri mulai awal pembacaan Maulid Nabi sampai akhir bacaan, kemudian Allah menyembuhkannya.
Ia pun selalu berdiri (mulai awal pembacaan Maulid Nabi sampai akhir bacaan) untuk memenuhi nadzarnya karena ta’zhim (mengagungkan) beliau Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.
Sumber:Kitab Al-Hadyuttaamm fii Mawaaridil Maulidinnabawiyyi Wa Maa I’tiida Fiihi Minal Qiyaam, hal 50-51, karya Sayyid Muhammad Ali bin Husein Al-Maliki Al-Makki (1287 H – 1367 H)

Sejarah singkat Dzuriat Nabi Muhammad SAW yg menjadi penyebar islam Hingga Indonesia


Keturunan Nabi Muhammad – Beliau Rasulullah dikaruniai 7 anak 3 laki-laki dan 4 prempuan, yaitu Qasim, Abdullah, Ibrahim, Zaenab, Ruqoiyah, ummu kultsum, dan Fathimah Azzahra. Setiap keturunan berasal dari ayahnya, namun khusus untuk Keturunan Sayyidatuna Fathimah bersambung kepada Rasulullah merekalah keturunan Nabi Muhammad.
Sebagaimana dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: “setiap anak yg dilahirkan ibunya bernasab kepada ayahnya, kecuali anak-anak dari fathimah, akulah wali mereka, akulah nasab mereka dan akulah ayah mereka” (HR.Imam Ahmad)
Inilah-Anak-Cucu-Nabi-Muhammad-di-Indonesia
Sayyidatuna Fathimah dikarunia 2 orang putra yaitu Sayyidina Hasan dan Saayidina Husein, dari kedua cucu Nabi ini lahir para anak cucuk Rasulullah yang hingga kini kita kenali dengan sebutan syarif, syarifah, Sayyid, dan Habib.
Keturunan dari Sayyidina Hasan, yaitu sering disebut dengan al-Hasni hanya ada sedikit saja di indonesia.
Keturunan dari Sayyidina Husein, Sayyidina Husein wafat di Karbala, beliau mempunyai enam orang anak laki-laki dan 3 wanita, yaitu Ali Akbar, Ali Awsat, Ali Ashghar, Abdullah, Muhammad, Jakfar, Zainab, Sakinah dan Fathimah. Putra Sayyidina Husein keseluruhannya wafat terkecuali Al Awsat atau yang biasa dikenal dengan Nama Imam Ali Zainal ‘Abidin, mempunyai putra bernama Muhammad Al-baqir, yang mempunyai Putra bernama Ja’far Ash-Shadiq yang menjadi Guru daripada Imam Hanafi, yang kemudian Imam Hanafi ini memiliki murid Imam Maliki, lalu Imam Maliki memiliki murid Imam Syafi’i dan Imam Syafi’i bermuridkan Imam Ahmad bin Hanbal.
Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq dilahirkan pada tahun 80 H riwayat lain menyebutkan 83 H, Meninggal di kota Madinah pada tahun 148 H dan dimakamkan di pekuburan Baqi. Keturunannya yaitu Ali Uraidi yang memiliki putra bernama Muhammad An-nagieb memiliki putra isa arumi dan memiliki putra ahmad al muhajir.
Ahmad bin Isa al-muhajir punya dua orang putra yaitu Ubaidillah dan Muhammad. Ubaidillah hijrah bersama ayahnya ke Hadramaut, Yaman dan mendapat tiga putra yaitu Alawi, Jadid dan Ismail (Bashriy). Keturunan mereka punah dalam sejarah, sedangkan keturunan Alwi tetap lestari. Mereka menamakan diri dengan nama sesepuhnya Alwi, yang kemudian dikenal masyarakat dengan sebutan kaum Sayyid Alawiyin
.
Kepindahannya ke Hadramaut disebabkan karena kekuasaan diktator khalifah Bani Abbas yang secara turun-menurun terus memimpin umat Islam, mengakibatkan rasa ketidakpuasan di kalangan rakyat. Akibat dari kepemimpinan yang diktator, banyak kaum muslim berhijrah, menjauhkan diri dari pusat pemerintahan lalu hijrah dan menetap di Hadramaut, Yaman.
Penduduk Yaman khususnya Hadramaut yang mengaku penduduk asli dari qabilah Qahthan, yang awalnya bodoh dan sesat berubah menjadi mengenal ilmu dan berjalan di atas syariat Islam yang sebenarnya. Al-Imam al-Muhajir dan keturunannya berhasil menundukkan masyarakat Hadramaut yang memiliki faham khoawarij dengan akhlak dan pemahaman yang baik.
Para sayyid Alawiyin menyebarkan dakwah Islamnya di Asia Tenggara melalui dua jalan, pertama hijrah ke India kemudian pada tahap kedua dari India ke Asia Tenggara, atau langsung dari Hadramaut ke wilayah Asia Tenggara melalui pesisir India. Diantara yang hijrah ke India adalah syarif Abdullah bin Husein Bafaqih ke kota kanur dan menikahi anak menteri Abdul Wahab dan menjadi pembantunya sampai wafat. Lalu syarif Muhammad bin Abdullah Alaydrus yang terkenal di kota Surat dan Ahmadabad.
Dia hijrah atas permintaan kakeknya syarif Syech bin Abdullah Al-Aydrus. Begitu pula keluarga Abdul Malik yang diberi dengan gelar ‘Azhamat Khan’.turunanya banyak yg jadi raja islam awal mulabdi india ada juga dithailand,kamboja,dan jawa Dari keluarga inilah asal-muasal keturunan penyebar Islam di Indonesia khususnya di Jawa yang dikenal dengan sebutan Wali Songo .yg insya Allah keturunanya banyak sampe saat ini bilkhusus mayoritasnya yg bikin wadah NHADLOTUL ULAMA dan MUHAMMADIAH.dgn sebutan kyai ato gus karena sudah berbaur dgn masyarakat jawa sejak ber abad2  Kemudian qobilah adzmatkhan dari India mereka melanjutkan dakwahnya ke Indonesia, yaitu melalui daerah pesisir utara Sumatera yang sekarang dikenal dengan propinsi Aceh.dan ada walipitu keluarga ba faqih .
Sulawesi dan pulau jawa .
Menurut Profesor Dr. Hamka, sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan-keturunan Hasan dan Husain itu datang ke Indonesia, tanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu lalu kepulauan Indonesia dan Filipina. Memang harus diakui banyak jasa-jasa dari mereka dalam penyebaran Islam di seluruh Nusantara ini. Penyebar Islam dan pembangun kerajaan islam di Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah/sunan gunung jati keturnan ke 6 imam sayyid abdul malik adzmatkhan nasar abad Raja india . yang diperanakkan di Aceh. Syarif kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam di Mindanau dan Sulu.
Sesudah pupus keturunan laki-laki dari Iskandar Muda Mahkota Alam, pernah bangsa Sayyid dari keluarga Jamalullail menjadi raja di Aceh. Negeri Pontianak pernah diperintah oleh bangsa Sayyid al-Gadri. Siak oleh keluarga dari bangsa Sayyid Bin Shahab. Perlis (Malaysia) didominasi dan dirajai oleh bangsa dari Sayyid Jamalullail. Yang Dipertuan Agung III Malaysia, Sayyid Putera adalah raja Perlis. Gubernur Serawak yang ketiga, Tuanku Haji Bujang ialah berasal dari keluarga Al-Aydrus.ter akhir bangsa alaydrus ini yg hijrah kebanjar martapura diberi gelar albanjari seperti datu kalampayan albanjari "leluhur abah guru sekumpul martapura .
Kedudukan para sayyid di negeri ini yang turun-temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri di mana mereka berdiam. Kebanyakan dari mereka menjadi ulama dan ada juga yang berdagang. Mereka datang dari Hadramaut dari keturunan Imam Isa al-Muhajir dan al-Faqih al-Muqaddam. Mereka datang kemari dari berbagai keluarga. Yang kita banyak kenal dari mereka ialah dari keluarga As-Segaf, Al-Kaff, Al-Athas, Bin Syekh Abubakar, Al-Habsyi, Bafaqih, Al-Aydrus, Al-Haddad, Bin Smith, Jamalullail, Assiry, Al-Aidid, Al-Jufri, Bin Syahab, Al-Qadri, Albar, Al-Mussawa, Gathmir, Bin Aqil, Al-Hadi, Al-Zahir, Basyaiban, Ba’abud, Bin Yahya dan lain-lain.
Orang-orang dari Arab khususnya Hadramaut mulai datang secara masal ke Nusantara pada tahun-tahun terakhir diabad 18, sedangkan kedatangan mereka di pantai Malabar jauh lebih awal. Pemberhentian mereka yang pertama adalah di Aceh. Dari sana mereka lebih memilih pergi ke Palembang dan Pontianak.
Orang-orang Arab mulai banyak menetap di Jawa setelah tahun 1820 Masehi, dan qabilah-qabilah mereka baru tiba di bagian Timur Nusantara pada kisaran tahun 1870 Masehi. Pendudukan Singapura oleh Inggris pada tahun 1819 Masehi dan kemajuan besar dalam bidang perdagangan membuat kota itu menggantikan kedudukan Aceh sebagai perhentian pertama dan titik pusat imigrasi bangsa-bangsa Arab. Semenjak pembangunan pelayaran kapal uap di antara Singapura dan Arab, Aceh sudah menjadi tidak penting lagi..
Di pulau Jawa terdapat enam qabilah besar Arab, yaitu di Batavia yang sekarang dikenal dengan nama Jakarta, Cirebon, Pekalongan, Semarang, Tegal, dan Surabaya. Di Madura hanya ada satu yaitu di Sumenep. Qabilah Arab di Surabaya dianggap sebagai pusat qabilah di pulau Jawa bagian Timur. Qabilah Arab lainnya yang cukup besar berada di Probolinggo, Lumajang, Pasuruan, Bangil, Besuki dan Banyuwangi. Qabilah Arab di Besuki mencakup pula orang Arab yang menetap di kota Panarukan dan Bondowoso.
Qabilah-qabilah Arab Hadramaut khususnya Alawiyin yang berada lokasi pesisir tetap menggunakan nama-nama qabilah mereka, sedangkan Alawiyin yang tidak dapat pindah ke pesisir karena berbagai sebab, Mereka berganti nama dengan nama-nama Jawa, mereka banyak yang berasal dari keluarga Ba’bud, Basyaiban, Bin Yahya dan lainnya.
Referensi : Kitab Syamsud Dhahiroh, Kitab dan berbagai sumber lainnya jika ada yg kurang monggo diralat .moga manfaat

Hukum Merayakan Maulid Nabi Muhammad

Bulan Rabiul Awal ini merupakan bulan yang istimewa. Bagaimana tidak istimewa?, pada bulan tersebut manusia terbaik, hamba Allah dan utusan Allah termulia dilahirkan di dunia. Pada 1400 abad yang lalu, tepatnya pada hari Senin 12 Rabiul Awal 576 M, baginda Nabi Muhammad Saw dilahirkan dari pasangan Sayyid Abdullah dan Sayyidah Aminah Radliya Allahu ‘anhuma.

Setiap tahun hari kelahirannya dirayakan oleh umat Muslim di seluruh penjuru dunia. Berbagai acara mulai di tingkat desa hingga istana negara menyelenggaraan perayaan maulid. Lantas bagaimana pendapat para ulama’ 4 madzhab mengenai tradisi perayaan maulid tersebut? Berikut ini kami rangkum beberapa statemen ulama’ mengenai tradisi tahunan tersebut.

Al-Imam al-Suyuthi dari kalangan ulama’ Syafi’iyyah mengatakan:

هُوَ مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالْاِسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ

“Perayaan maulid termasuk bid’ah yang baik, pelakunya mendapat pahala. Sebab di dalamnya terdapat sisi mengagungkan derajat Nabi Saw dan menampakan kegembiraan dengan waktu dilahirkannya Rasulullah Saw”.

Dalam kesempatan yang lain, beliau mengatakan:

يُسْتَحَبُّ لَنَا إِظْهَارُ الشُّكْرِ بِمَوْلِدِهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَالْاِجْتِمَاعُ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ وَنَحْوُ ذَلِكَ مِنْ وُجُوْهِ الْقُرُبَاتِ وَإِظْهَارِ الْمَسَرَّاتِ

“Sunah bagi kami untuk memperlihatkan rasa syukur dengan cara memperingati maulid Rasulullah Saw, berkumpul, membagikan makanan dan beberapa hal lain dari berbagai macam bentuk ibadah dan luapan kegembiraan”.