Kalau dalam tulisan pertama, saya “berteori” tentang dua puncak
kehidupan manusia, maka kemarin saya berjumpa dengan seorang yang belum
terlalu lama saya kenal yang memiliki kisah hidup persis yang saya
ceritakan. Dalam hal ini, puncak hidupnya adalah di titik terbawah
kehidupannya.
Sebut saja namanya pak Panca. Umurnya belum lima puluh. Secara usaha
dia cukup sukses. Ia memiliki beberapa perusahaan. Pak Panca termasuk
workaholic. Ia tak gampang menyerah. Ia sangat percaya diri. Tetapi
semua itu tidak membuatnya bahagia. Pernikahannya hancur. Lebih dari
sepuluh tahun ia berpisah dengan istrinya. Bahkan ia sudah menjalin
hubungan dengan wanita lain.
Suatu kali temannya mengajak ia mengikuti suatu seminar. Awalnya ia
menolak. Namun temannya tidak pernah putus asa. Temannya terus membujuk
dengan mengatakan ini seminar bagus. Namun pak Panca bersikeras menolak.
Ia menuduh temannya mendapat keuntungan dari mengajaknya. Temannya
tidak putus asa. Akhirnya pak Panca menurut. Seminar sesi pertama dia
ikuti. Ternyata bagus. Ia terus mengikuti sampai sesi ke-3. Pada sesi
ke-3 para peserta diminta membuat komitmen. Ia pikir-pikir, ia mau buat
komitmen yang mudah saja. Menurutnya, yang paling mudah ada komitmen
kesehatan. Ia mau periksa kesehatan. Setelah semua proses general check
up selesai, ia menunggu sambil duduk di depan klinik THT. Alih-alih
kesal menunggu, ia akhirnya juga memeriksakan diri di klinik THT. Apa
dinyana, ternyata dokter menemukan benjolan besar di belakang hidung.
Hasil biopsi menyatakan itu positif KNF stadium 3.
Mulailah pak Panca mengarungi hidup yang menuruni bukit terjal. Ia
menjalani pengobatan berbulan-bulan. Karena tidak berdaya sendirian, ia
meminta tolong istrinya mendampingi. Istrinya ternyata bersedia. Dalam
suatu kondisi yang sangat berat, setelah menjalani radiasi di atas 25
kali, ia mendapat semacam penglihatan. Dalam penglihatan itu, ia
diperlihatkan tentang dosa-dosa yang diperbuatnya. Ia merasa, kalau di
dunia ini saja ia sangat menderita karena sakitnya, apalagi di dunia
sana. Berikut saya kutipkan kata-kata asli dari pak Panca dengan sedikit
editing:
“Setelah mendapatkan penglihatan tentang beratnya hukuman atas dosa,
saat itu saya merasa sungguh tidak berdaya. Saya merasa tidak bisa kuat
bertahan lagi. Saya tahu persis kematian sudah di depan. Sangat terasa
dan nyata. Ibarat melihat logo batterai hp yang sudah menyala merah.
Saya meminta maaf kepada istri. Dengan sepenuh penyesalan dan merasa
bersalah saya mohon maaf. Istri saya dengan tulus memaafkan saya. Ia
mengatakan selama ini selalu mendoakan saya bahkan berdoa puasa 40 hari
hanya makan hanya satu kali sehari. Saya merasakan suatu keajaiban.
Tiba-tiba saya merasa hidup kembali. Batterai hp yang sudah merah
tiba-tiba langsung menjadi setengah. Saya juga menghubungi satu demi
satu kenalan dan meminta maaf atas semua kesalahan saya. Sejak itu, saya
merasakan semangat hidup semakin naik sedikit demi sedikit. Saya
mengalami sepenuh hati dan tulus memaafkan semua yang pernah
mengecewakan saya. Perlahan saya pulih. Sampai waktunya pemeriksaan,
saya dinyatakan sembuh.”
Pak Panca menambahkan bahwa sebelum divonis kanker, ia sudah menutup
beberapa perusahaannya. Hal itu tidak disesalinya. Ia justru bersyukur.
Katanya, jika ia tidak melakukan hal itu, pastilah semua aset
perusahaannya tidak terurus dan lenyap ketika ia sakit. Secara ekonomi,
kehidupannya sekarang memang tidak sejaya dulu, tetapi ia merasa bahagia
dan bersyukur. Titik terendah dalam hidupnya justru menjadi puncak
kehidupan yang membawanya berjumpa dengan Tujuan hidup sejati, yaitu
Allah Pencipta dan Penebusnya.
Anda bebas mengomentari kisah hidup pak Panca. Namun yang paling
berhak berkomentar adalah dirinya sendiri karena dialah yang mengalami
dan merasakan akibat dari semua pengalaman itu. Bagi saya, bahwa puncak
kehidupan justru ada di lembah kehidupan paling rendah bukanlah
kontradiksi. Itu kenyataan yang dialami sebagian orang. Namun tidak
semua orang yang pernah berada di lembah paling rendah mengalaminya,
karena ada juga yang sudah berada pada lembah paling rendah pun tidak
pernah mengalami transformasi. Mereka terus di sana dan tidak pernah
bangkit lagi. Pak Panca adalah salah seorang pemenang kehidupan. * (Bong
San Bun).
BBC (Blogger Bengkah Community)