-->
Cahaya Ilmu, Penenang Qolbu

Mecari cahaya dalam cahaya

Hikmah Idul Ffitri


lilinqolbu - Seorang muslim yang kembali kepada fitrahnya ia akan memiliki sikap yaitu pertama, ia tetap istiqomah memegang agama tauhid yaitu islam, ia tetap akan berkeyakinan bahwa Allah itu maha Esa dan hanya kepadanya kita memohon. Kedua, dalam kehidupan sehari-hari ia akan selalu berbuat dan berkata yang benar,walau kaana murron meskipun perkataan itu pahit. Ketiga, ia tetap berlaku sebagai abid, yaitu hamba Allah yang selalu taat dan patuh kepada perintah-Nya sebagai contoh kita harus menghormati kedua orang tua kita baik orang tua kandung maupun mertua, jikalau sudah meninggal berziarahlah ketempat makam mereka untuk mendoaakan agar dilapangkan kuburannya dan diampuni dosanya. 


Mudah-mudahan berkat ibadah selama bulan Ramadhan yang dilengkapi dengan menunaikan Zakat fitrah, Insya Allah kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrohnya, karena ibadah puasa Ramadhan berfungsi sebagai tazkiyatun nafsi yaitu mensucikan jiwa dan Zakat fitrah berfungsi sebagai tazkiyatul badan, yaitu mensucikan badan, maka setelah selesai ibadah puasa dan menunaikan zakat,seorang muslim akan kembali kepada fitrohnya yaitu suci jiwanya dan suci badanya.

Seorang muslim yang kembali kepada fitrohnya selain sebagai abid (hamba Allah) yang bertakwa, ia juga akan memiliki kepekaan sosial yang tinggi peduli kepada lingkungannya. Itulah beberapa indikator dari gambaran seorang yang kembali kepada fitrahnya setelah selesai menunaikan ibadah shaum Ramadhan sebulan lamanya, dan itu akan tampak pada dirinya setelah selesai puasa ramadhan,mulai hari ini dan seterusnya.



Namun bila ketiga ciri fitrah tersebut tidak tampak pada diri seorang muslim mulai hari ini dan hari-hari berikutnya, maka berarti latihan dan pendidikan puasa Ramadhan yang telah dilakukannya selama sebulan tidak berhasil, karena ia tidak mampu kembali kepada fitrahnya. Semoga dengan kembalinya semua warga masyarakat muslim di negeri ini kepada Fitrahnya, cita-cita Negara kita menjadi Negara yang Adil dan Makmur, Gemah Ripah Loh Jinawi, Gemah merenah tur tuma’ninah dibawah ridha Allah SWT atau dengan istilah agama Baldatun Toyyibatun Warobbun Ghoffur.

Dalam kesempatan berlebaran di hari raya yang suci ini, mari kita satukan niat tulus ikhlas dalam sanubari kita, kita hilangkan rasa benci, rasa dengki, rasa iri hati, rasa dendam, rasa sombong dan rasa bangga dengan apa yang kita miliki hari ini. Mari kita ganti semua itu dengan rasa kasih sayang dan rasa persaudaraan. Dengan hati terbuka, wajah yang berseri-seri serta senyum yang manis kita ulurkan tangan kita untuk saling bermaaf-maafan. Kita buka lembaran baru yang masih putih, dan kita tutup halaman yang lama yang mungkin banyak terdapat kotoran&noda seraya mengucapkan Minal Aidin Walfaizin Mohon Ma’af Lahir dan Batin. Semoga Allah SWT, selalu memberikan pertolongannya kepada kita semua. Oleh karena itu marilah kita jadikan Idul Fitri tahun 2014 ini berbeda dengan Idul Fitri di tahun-tahun sebelumnya karena kita baru saja telah melaksanakan pesta demokrasi pemilihan presiden. Walaupun kemarin beda pilihan itulah seninya berdemokrasi, mari merajut kembali dan maksimalkan bersilaturahmi untuk meminta maaf, memberi maaf dan menjadi seorang pemaaf. Jangan biarkan kedengkian dan kebencian merasuk kembali ke jiwa kita yang telah suci.

Life At Its Best (Puncak Kebahagiaan) Bagian-1


Menurut Anda, puncak kebahagiaan hidup itu kapan? Apakah ketika Anda berada di suatu tempat yang paling Anda impikan? Ketika Anda dapat menikmati makanan yang katanya paling maknyuss? Ketika Anda bertemu gadis atau pemuda impian Anda dan hidup bersamanya? Ketika Anda berhasil meraih posisi karier yang Anda perjuangkan selama ini? Atau…?
Bagaimana kalau saya mengatakan bahwa ada puncak kebahagiaan hidup yang berkebalikan seratus delapan puluh derajat dengan yang saya sebut di atas? Ketika saya sakit parah dan berjumpa dengan Dia yang menderita. Ketika saya menjadi bangkrut dan terpuruk namun berjumpa Dia yang mengangkat kembali. Ketika saya ditinggalkan orang yang saya kasihi dan berjumpa dengan Kekasih jiwa yang sejati. Ketika saya lapar dan dahaga dan berjumpa dengan Dia yang mengenyangkan dan menyegarkan selamanya.

Banyak orang mengidamkan puncak kehidupan seperti skenario di awal. Tak sakit, tak miskin, tak sendiri. Intinya apapun yang diinginkan hati tercapai. Benarkah? Benarkah dengan mendapatkan semua itu menjamin kebahagiaan hidup? Seorang berhikmat yang hidup ribuan tahun lalu—Salomo namanya–sudah mendapatkan semua itu dalam arti berkelimpahan. Namun apakah ia merasa itu puncak hidupnya? Tidak. Di akhir tulisannya yang melow, ia mengatakan “semuanya sia-sia.” Apa yang salah? Ah, Salomo saja yang salah sendiri. Mungkin Anda bisa menilainya demikian.
Saya tidak mengatakan bahwa skenario pertama salah, seolah saya mengajak Anda hidup menderita saja. Saya bukan penganjur hidup menderita. Saya juga senang travelling, senang kuliner meskipun bukan seorang obsesif. Bagi saya, hidup terlalu sayang jika dihabiskan untuk susah-susah hati saja.
Namun saya ingin mengajak Anda berpikir, bahwa bisa terjadi bahwa puncak kebahagiaan hidup justru terjadi ketika Anda berada pada titik paling rendah dalam hidup Anda. Titik paling rendah ternyata menjadi titik paling tinggi. Mengapa bisa? Ini yang saya sebut paradoks. Bisa saja jika Anda mengalami bahwa di titik paling rendah itu, justru Anda menemukan nilai paling tinggi dari kehidupan. Di titik paling rendah itu, Anda mengalami transformasi batin. Anda menjadi manusia baru. Anda tentu tahu bukan bahwa sebelum menjadi kupu-kupu yang indah, ia adalah ulat dan kepompong yang jelek.
Saya sudah sering mendengar kisah kehidupan orang yang mengalami transformasi batin ketika ia berada di dalam lembah paling dalam. Ia yang dulunya hidup bejat, berubah menjadi saleh. Ia yang dulunya mementingkan diri, berubah menjadi pengasih. Ia yang dulunya keras, menjadi lembut. Ada banyak kisah indah lainnya yang Anda pasti pernah jumpai. Atau jangan-jangan Anda adalah salah seorang di antaranya.
Jika Anda sedang berada dalam “surga dunia” (dalam arti positif), syukurilah, nikmatilah. Jangan lupa diri dan daratan. Jangan terbang terlalu tinggi sampai Anda lupa bahwa Anda masih di dunia yang fana. Ingat bahwa sasaran hidup adalah dunia yang di atas “sana.” Jangan sampai Anda terbang terlalu jauh sampai Anda masuk ke dalam lubang hitam (black hole).
Sebaliknya, jika Anda merasa berada dalam “neraka dunia”, jangan meratapi nasib dan mengatakan “seandainya, seandainya.” Jangan bersungut apalagi mengutuk. Cobalah melihat keterpurukan hidup Anda dari sudut lain. Jangan-jangan ini saatnya Anda menemukan makna hidup sejati. Boom!! Anda seperti membentur tembok, tetapi ternyata dibalik tembok itu Anda melihat Terang yang sejati yang selama ini Anda nanti-nantikan menerangi hidup Anda yang gelap. Anda berada dalam kekelaman yang ternyata ujungnya adalah terang. Selamat datang transformasi batin. *** (Bong San Bun).

AKIBAT SALAH MENGAJI



Jangan Salah Mengaji, Carilah guru yang jelas sanad keguruannya hingga bersambung kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
Pemahamannya jelas hingga bersambung kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam

Agama Islam sajalah yang mendapatkan kekhususan hingga Ilmu yang berumber dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam Alllah jaga sehingga tidak melenceng sedikitpun dari jalur yang telah Allah swt gariskan.

Diceritakan ada seorang membaca kitab riyadhusshalihin tanpa bimbingan guru dan pemahaman yang jelas. Ia membacanya sendiri bukan di depan seorang guru yang sanad keguruannya nyambung kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
Ketika ia membaca suatu hadits yang berbunyi :

Lisho`imi farkhatan...ila akhir hadits

Salah kali ente membacanya berkata seorang temannya.. Tidak , sudah benar lisho`imi farkhatan.... Padahal yang sebenarnya adalah lisho`imi farhatan ...Orang yang berpuasa mempunyai dua kegembiraan yaitu gembira ketika bertemu Allah dan gembira saat berbuka puasa

Karena ia membaca kitab seorang diri bukan di depan seorang guru yang jelas ,guru yang sanad dan pemahamannya nyambung kepada Rasulullah saw, hingga ia membacanya ...Farkhatan....huruh Ha di baca Kha sehingga artinya pun berubah menjadi

Untuk orang yang berbuka puasa mempunyai 2 ekor ayam, yaitu satu untuk sahur dan satu untuk berbuka.. hati-hati di dalam mencari guru agama, salah guru akan berakibat salahnya amal ibadahmu
Wallahu`alam 

dikisahkan oleh Habib Jindan Novel Jindan

DOA HADROTUSY SYAIKH HASYIM ASY'ARI

Pada 2009, seorang Kader Muda Nahdlatul Ulama (NU) yang juga Alumnus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang bersama M Mansyur diutus oleh KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) untuk menemui KH Abdul Muchith Muzadi di kota Jember, Jawa Timur. Saat itu, Gus Sholah meminta kepada mereka untuk menggali kisah-kisah Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari melalui Kiai Muchith yang merupakan santri langsung Hadratusy Syaikh.
Hasil dari wawancara eksklusif dua hari itu alhamdulillah menjadi sebuah buku yang diterbitkan oleh Pustaka Tebuireng. Di sela-sela mewawancarai Kiai Muchith, mereka berdiskusi panjang dengan Kiai Nur, kiai yang merupakan Alumnus Pondok Pesantren Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Dengan ketulusan hati, beliau mempersilakan mereka untuk menginap di rumahnya selama berada di Jember. Dan, sebuah kebetulan yang sangat luar biasa, di rumah beliau itu mereka menemukan sebuah dokumen yang sangat penting. Isinya adalah sebuah doa Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari yang dikhususkan untuk NU. Berikut adalah do’a tersebut:
DO’A HADRATUSY SYAIKH KH MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI UNTUK NAHDLATUL ULAMA
:دعاء حضرة الشيخ كياهي حاجي محمد هاشم أشعري رحمه الله
اَللّٰهُمَّ أَيْقِظْ قُلُوْبَ الْعُلَمَاءِ وَالْمُسْلِمِيْنَ مِنْ نَوْمِ غَفْلَتِهِمِ الْعَمِيْقِ وَاهْدِهِمْ إِلَى سَبِيْلِ الرَّشَادِ. اَللّٰهُمَّ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ أَحْيِ جَمْعِيَّتَنَا جَمْعِيَّةَ نَهْضَةِ الْعُلَمَاءِ حَيَاةً طَيِّبَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ بِبَرَكَةِ “فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً (النحل: ٩٧)”، “فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِيْ إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ (ابراهيم: ٣٧)” وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَسُوْءٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
(٣x بعد المفروضة)
أجازنا الشيخ خطيب عمر، عن والده الشيخ عمر، عن الشيخ أسعد شمس العارفين، عن حضرة الشيخ محمد هاشم أشعري رحمهم الله

Bismillahirrochmanirrochim. Allohumma aiqizh qulubal ‘ulamai wal muslimina min naumi ghoflatihimil ‘amiq wahdihim ila sabilirrasyad. Allohumma ya Chayyu ya Qoyyum, ahyi jam’iyyatana Jam’iyyata Nahdlotil Ulamai chayatan thoyyibatan ila yaumil qiyamah bibarakati “Falanuhyiyannahu chayatan thayyibah”, “Faj’al af-idatan minannasi tahwi ilaihim warzuqhum minatssamarati la’allahum yasykurun”, Warzuqhum quwwatan ghalibatan ‘ala kulli bathilin wa zhalimin wa fachisyin wa su’un la’allahum yattaqun.
Artinya:
“Ya Allah, bangunkanlah hati para ulama dan umat Islam dari kelalaian yang dalam dan berkepanjangan dan tuntunlah mereka ke jalan petunjukMu. Ya Allah, yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, hidupkanlah Jam’iyah kami Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) dengan kehidupan thoyyibah (kehidupan yang baik sesuai kehendakMu) hingga hari Kiamat dengan berkah ayat:
فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً (النحل: ٩٧)، فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِيْ إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ (ابراهيم: ٣٧)1
(Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (Qur’an Surat An-Nahl:97). Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur (Qur’an Surat Ibrahim: 37). Dan karuniakanlah mereka rizqi (berupa) kekuatan yang mengalahkan kebathilan, kedzaliman, ketidaksenonohan dan keburukan agar mereka bertaqwa".

Kalimat Tauhid bukan sekedar Simbol dari lisan Masuk kehati


Saat ini kita disuguhi penggunaan kalimat Tauhid di topi. Memang,  secara dalil syar'ie tidak ada pelarangannya.  Karena memang tidak masuk dalam wilayah syariat murni.

Namun,  jika mau belajar agama Islam lebih dalam,  kita akan mengenal istilah "Ikhtiyath" yakni sikap kehati-hatian supaya tidak nabrak syariat atau adab..

Mari kita lihat prakteknya.  Jika kalimat Tauhid diletakkan di topi  akan sangat rentan dengan tindakan kurang pas yang akan kita lakukan. 

Misalnya topi jatuh,  terinjak,  atau kalau kena keringat akan jadi berbau tidak sedap.  Belum lagi jika akan masuk toilet bagaimana jika lupa melepasnya. 

Belum lagi kita tidak tahu bagaimana cara pengguna topi ini menjaga kebersihan dan kesuciannya selalu. Inilah yang dimaksud dari bagian 'ikhtiyath' tersebut.

Kalimat Tauhid itu sangat suci,  sangat sakral bagi umat Islam. Sebagaimana sakral dan sucinya mushaf Al Qur'an.

Kita sangat menghormati Bendera negara Saudi Arabia dan tidak pernah mempermasalahkan karena meyakini bahwa bendera adalah hal yang sakral dan ditempatkan di posisi terhormat. 

Itu saja,  kita sering menyayangkan ketika bendera tersebut disatukan dengan bendera negara lain,  disablonkan di bola.

Kita sangat menyesalkan ketika benderanya dijahit dipakai model kecantikan dengan gaya yang teramat seksi. 

Dan seterusnya...  Dan seterusnya...

Dan yang amat sangat membuat terbelalak ialah latar belakang munculnya ide topi bertuliskan kalimat tersebut,  salah satunya ialah sebagai simbol perlawanan karena seorang Ustadz yang dikagumi ditolak mengisi pengajian dimana-mana. 

Bukan oleh kalangan orang lain,  melainlan dari tubuh kaum Muslimin sendiri.  Dengan memakai simbol tauhid tersebut tentu ada maksud yang hendak disampaikan.

Apalagi khod dan warna dasarnya ialah khod putih,  warna dasar hitam.  Yang oleh organisasi HTI pernah dikumandangkan sebagai bendera perangnya Rosulullah (padahal khod jenis itu belum ada di jaman Rosulullah SAW).

Kita wajib mengkhawatirkan jika sikap ini justru mencocoki dari apa yang telah didhawuhkan Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah,  " Kalimatul haq yuridul bathil". (Kalimat yang benar namun dipakai untuk hal yang tidak benar). 

Maka, hendaklah kita jangan sampai terpengaruh untuk memakainya.  Jangan sampai kita terjebak pada semangat beragama yang membara namun tidak dibarengi dengan ilmu agama yang cukup.

Tidak ada yang bisa merendahkan Islam.  Yang membuat Islam kadang terkesan kurang indah adalah perilaku sebagian pemeluknya sendir (Oleh : Shuniyya Ruhama)

Sambut Bulan Muharram dengan Amaliah-amaliah


Bulan istimewa, bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender tahun Hijriyyah. Kehadiran bulan Muharram oleh masyarakat muslim disambut dengan sangat rasa syukur dan nikmat guna meningkatkan ketakwaan dengan memperbanyak ritual-ritual ibadah seperti puasa hari Asyura, memperbanyak dzikir serta doa dan sebagainya. Selain itu, bulan Muharram merupakan bulan yang mulia yang termasuk dalam empat bulan yang diterangkan dalam Al Quran surat at Taubah ayat 36 yang berbunyi:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (36)
Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah SWT ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antara empat bulan haram (bulan Dzulqo’idah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam empat bulan mulia itu dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.” (At-taubah: 9:36)
Selain itu, diterangkan juga dalam hadis dari sahabat Abi Bakrah mengenai keutamaan bulan Muharram, yang berbunyi sebagai berikut:
عَنْ أَبِى بَكْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ  قَالَ «الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ.
Majalah Tebuireng
Artinya: Dari Abi Bakrah dari Rasulullah, bersabda: “Sesungguhnya masa berputar seperti hari saat Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun adalah 12 bulan, di antaranya ada empat bulan yang mulia. Yang tiga secara beriringan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram, dan Rajab yang terletak antara Jumada dan Sya’ban.” (HR al-Bukhari 5550 dan Muslim 4477).
Amaliah-amaliah Bulan Muharram
  1. Berpuasa tanggal 1 Muharram
Disunahkan berpuasa tanggal 1 Muharram sebagaimana yang dianjurkan oleh baginda Rasulullah dalam hadisnya. Demikian pula pada hari-hari setelahnya. Adapun bunyi hadisnya sebagai berikut:
رُوِيَ عَنْ حَفْصَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : مَنْ صَامَ آخِرَيَوْمٍ مِنْ ذِيْ الْحِجَّةِ وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ جَعَلَهُ اللهُ تَعَالَى لَهُ كَفَّارَةَ خَمْسِيْنَ سَنَةً. وَصَوْمُ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ بِصَوْمِ ثَلَاثِيْنَ يَوْمًا.
Artinya: Diceritakan dari Sayyidah Hafshoh r.a. dari Rasulullah SAW bahwasanya Beliau bersabda, “Barangsiapa berpuasa pada hari terakhir dari bulan Dzulhijjah dan hari pertama dari bulan Muharram, maka Allah SWT menjadikan (puasa)nya itu sebagai pelebur (dosa) selama 50 tahun. Dan puasa sehari di bulan Muharram sama dengan puasa 30 hari di bulan selainnya.”
 قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمِ.
Artinya: Rasulullah SAW bersabda, “Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadan adalah puasa di bulan Muharram.”
 قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : صَوْمُ يَوْمٍ مِنْ شَهْرِ حَرَامٍ أَفْضَلُ مِنْ ثَلَاثِيْنَ مِنْ غَيْرِهِ وَصَوْمُ يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ أَفْضَلُ مِنْ ثَلَاثِيْنَ مِنْ شَهْرِ حَرَامٍ.
Rasulullah SAW bersabda, “Puasa satu hari di Bulan Muharram itu lebih utama daripada puasa 30 hari di bulan lainnya, dan puasa satu hari di Bulan Ramadan itu lebih utama daripada puasa 30 hari di Bulan Muharram.”
  1. Membaca doa akhir tahun
Pembacaan doa akhir tahun ini hendaknya dibaca sebanyak tiga kali pada akhir waktu Ashar tanggal 29 atau 30 Dzulhijjah (lebih jelasnya untuk melihat kalender guna mengetahui akhir bulan Dzulhijjah). Pembacaan ini dimulai dengan membaca surat Yasin sebanyak tiga kali kemudian dilanjutkan dengan doa di bawah ini:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِى السَّنَةِ الْمَاضِيَةِ وَلَمْ تَرْضَهُ, وَنَسِيْتُهُ وَلَمْ تَنْسَهُ , وَحَلُمْتَ عَنَيَّ مَعَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ, وَدَعْوَتَنِيْ اِلَى تَوْبَةٍ بَعْدَ جَرَائَتِيْ عَلَيْكَ. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَغْفِرُكَ مِنْهُ فَاغْفِرْلِيْ . اَللَّهُمَّ وَمَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ 3x  تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهِ الثَّوَابَ وَالْغُفْرَانَ فَتَقَبَّلْهُ مِنِّيْ, وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم
Sebagaimana hadis yang telah disebutkan di atas, bahwa pada hari terakhir dari bulan Dzulhijjah (hari akhir tahun) disunahkan untuk berpuasa agar seseorang mengakhiri tahunnya dengan ibadah puasa. Dalam suatu hadis disebutkan, “Barang siapa berpuasa pada hari terakhir dari bulan Dzulhijjah dan hari pertama dari bulan Muharram, maka Allah SWT menjadikan (puasa)nya itu sebagai pelebur dosa selama 50 tahun.”
  1. Membaca doa awal tahun
Pembacaan doa awal tahun ini hendaknya dibaca setelah melaksanakan shalat Maghrib (saat itulah tanggal 1 Muharram telah tiba) sebanyak tiga kali, yang dimulai dengan membaca surat Yasin dan kemudian dilanjutkan dengan doa di bawah ini:
بسم الله الرحمن الرحيــــــــم, الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعلَمِيْنَ, اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمِّدٍ صَلاَةً تَمْلَأُ خَزَائِنَ اللهِ نُوْرًا, وَتَكُوْنُ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ فَرَجًا وَفَرَحًا وَسُرُوْرًا, وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. اللّهُمَّ اَنْتَ اْلأَبَدِيُّ اْلقَدِيْمُ اْلَأَوَلُ, وَعَلَى فَضْلِكَ اْلعَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ اْلعَمِيْمِ اْلمُعَوَّلُ. وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ, نَسْأَلُكَ اْلعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ, وَاْلعَوْنَ عَلى هَذِهِ النَّفْسِ اْلأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ, وَالإِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنَا إِلَيْكَ زُلْفَى, يَا ذَا اْلجَلَالِ وَاْلإِكْرَامِ. 3x وَصَلَّى اللهُ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم
  1. Membaca dzikir dan doa Asyuro (10 Muharram)
Padahari Asyuro’ dianjurkan untuk membacaحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ, نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْر  sebanyak 70 kali pada waktu setelah Maghrib. Setelah itu membaca doa di bawah ini sebanyak tujuh kali.
دُعَاءُ عَاشُرَاءَ
بسم الله الرحمن الرحيم. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. سُبْحَانَ اللهِ مِلْءَ الْمِيْزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ الْعَرْشِ, لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنَ اللهِ إِلَّاَ إِلَيْهِ, سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَآمَّاتِ كُلِّهَا, نَسْأَلُكَ السَّلَا مَةَ كُلَّهَا بِرَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ, وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلّاَ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. وَهُوَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ, نِعمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Selain itu, pada hari Asyuro’ juga dianjurkan untuk melaksanakan puasa. Anjuran ini tertuang dalam hadis yang diriwayatkan Imam Turmudzi dari jalur Abi Qatadah dari Rasulullah SAW bersabda:
حدثنا قتيبة و أحمد بن عبد الضبي قالا حدثنا حماد بن زيد عن غيلان بن جرير عن عبد الله بن معبد عن أبي قتادة : أن النبي صلى الله عليه و سلم قال صيام يوم عاشوراء إني أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله
Bahwa hadis di atas menunjukkan bahwa Nabi SAW bersabda mengenai keutamaan puasa hari Asyuro’ (10 Muharram) yaitu mengahapus dosa satu tahun yang sebelumnya.
Di samping melakukan puasa Asyura ini juga dianjurkan untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram (hari Tasu’a). Anjuran ini dengan alasan agar tidak menyerupai puasa kaum Yahudi, seperti diceritakan dari sahabat Ibnu Abbas, beliau berkata, “Ketika Rasulullah datang ke Madinah, beliau melihat orang Yahudi yang sedang berpuasa pada hari ‘Asyuro. Kemudian Rasulullah SAW bertanya kepadanya, ‘Hari apa ini?’ Mereka pun menjawab, ‘Hari ini adalah hari yang baik. Hari di mana Allah SWT menyelamatkan kaum Bani Israil dari musuhnya, kemudian Nabi Musa berpuasa pada hari itu.’ Rasulullah menanggapi seraya berkata, ‘Aku lebih berhak daripada kalian.'” Kemudian Rasulullah berpuasa pada hari itu–dalam suatu riwayat karena mengagungkan Nabi Musa-dan memerintahkan para sahabat agar berpuasa.
Tibanya pergantian tahun Hijriyah dari 1437 ke 1438, menjadi sebuah monumen dan bukti sejarah bahwa hampir satu setengah milennium Islam masih berjaya dan cahaya Islam yang terang telah membawa rahmat dan ketentraman bagi semesta alam, lebih-lebih bagi kita sebagai umat muslim.
Dengan momen pergantian tahun ini menjadi sebuah momen introspeksi diri, bukan hanya waktu yang telah berlalu dan tidak berbekas apapun. Pada pergantian tahun juga menjadi waktu yang tepat untuk memohon ampun atas kesalahan-kesalahan kita yang telah lewat di tahun lalu, untuk kemudian minta perlindungan kepada-Nya agar terhindar dari godaan-godaan setan. Wallahu ‘alam.

Keistimewaan dan Manfaat minum kopi

Kopi adalah minuman yang berwarna hitam pekat namun mempunyai cita rasa yang berbeda dengan minuman minuman lainnya. kopi biasa kalo di daerah lubang buaya, condet, cililitan dan seluruh daerah lainnya yang ada di Jakarta kita meminumnya sambil makan pisang dan aneka macam gorengan.
Dan kopi seiring waktu berjalan mulai banyak jenisnya dari rasanya, ada yang di campur dengan susu jadilah kopi susu, dan ada kopi yang dimix dengan susu dan coklat serta macam-macamnya.
Namun dari macam macam kopi kita harus tau asal muasal kopi dan khasiatnya,
Dikisahkan, setelah Syekh Ali Bin Umar as-Syadziliy diangkat menjadi wali Quthb di zamannya, masyarakat ketika itu sering mengalami mushibah dan gangguan keamanan akibat gangguan jin dan manusia. Sehingga pada suatu hari beliau bertemu dengan al-Khidhir dan al-Khidhir memberikan dua batang ranting puun al-Bun dan berkata;
"Wahai Ali Bin Umar, tanamlah puun ini nanti satu saat bebuah masaklah buahnya, maka kau akan selamat dari segala kejahatan jin dan manusia."
Penemu kopi tersebut, berbeda dengan Imam Abul Hasan as-Syadziliy pendiri Thoriqoh Syadziliyah (wafat tahun 656 Hijriyah) sebagaimana banyak disinyalir banyak informasi yang beredar di internet.
Penisbahan nama as-Syadziliy lantaran beliau pernah 3 tahun belajar di Mesir dan mengambil baiat Thoriqoh as-Syadziliyah. Dan beliaulah orang pertama yang menyebarkan Thariqoh As-syadziliyah di Yaman.
Sedangkan menurut Imam Najmuddin al-Ghazziy Seorang pakar sejarah mencatatkan dalam kitab al-Kawakib as-Sairah Fi A'yan al-Miah al-A'syirah:
" Bahwa Orang yang pertama kali menjadikan kebiasaan minum kopi sebagai minuman berkhasiat adalah syekh Abi Bakr Bin Abdullah al-Aidrus beliau bikin racikan kopi dari buah pohon Bun.
Dr al-Qabbaniy menyebutkan, pada awalnya kopi sudah dikenal di wilayah Habasyah (ethiofia) Afrika kemudian dibawa ke Yaman, Brazil dan Pulau Jawa Indonesia.
Terjadi diskusi panjang tentang hukum mengkonsumsi kopi, ada kelompok ulama yang mengharamkan di antaranya imam Ahmad as-Sunbathiy, Imam Ibn Sulthan al-Hanafiy dan lain-lain. Tetapi mayoritas ulama menghalalkannya. Hanya saja ada orang-orang yang punya penyakit tertentu dilarang minum kopi lantaran dapat membahayakan kesehatannya.
Pada suatu hari Sidi Ahmad Mahmud mendatangi rumah seorang wali Quthb bernama Sidi Al Arabiy Bin Saih rahimahullah tokoh besar dalam thoriqoh tijaniyah yang juga merupakan guru beliau. Beliau disuguhkan kopi Bun, padahal beliau tidak pernah ngopi lantaran hukumnya masih diperdebatkan di kalangan ahli fiqh. Sidi al-Arabiy Bin Saih rahimahullah mengetahui hal itu dan berkata dalam sebuah syair:

ﺇﻏﻨﻢ ﺃﺧﻲ ﻗﻬﻮﺗﻨﺎ ﻭﺷﺮﺑﻬﺎ ﻭﻟﻮﻧﻬﺎ
ﻭﻻ ﺗﻤﻞ ﻟﻌﺎﺫﻝ ﻋﻦ ﺷﺮﺑﻬﺎ ﻭﻟﻮ ﻧﻬﻰ
Bersenang-senanglah wahai saudaraku dengan kopi kami saat meminumnya dan cita rasanya. Jangan kau cendrung pendapat orang yang mencela peminum kopi sekalipun ia melarangnya .
Beliau pun sepontanitas menjawab dengan syair:
ﻧﻌﻢ ﻧﻌﻢ ﻳﺎ ﻣﻦ ﻋﻼ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺴﻤﺎﻙ ﻭﺍﻟﺴﻬﺎ
Iya, iya wahai orang yang punya reputasi tinggi di atas bintang Simak dan Suha.
Imam Abdul Ghoni bin Ismail an-Nabulsiy (wafat tahun 1143 Hijriyah) mengatakan kehalalan kopi melalui dua bait syairnya :
ﻗﻬﻮﺓ ﺍﻟﺒﻦ ﺣﻼﻝ * ﻗﺪ ﻧﻬﻰ ﺍﻟﻨﺎﻫﻮﻥ ﻋﻨﻬﺎ
ﻛﻴﻒ ﺗُﺪﻋﻰ ﺑﺤﺮﺍﻡ * ﻭﺃﻧﺎ ﺃﺷﺮﺏ ﻣﻨﻬـــــﺎ
" Biji kopi itu halal, sungguh mereka para pelarang telah melarangnya
Bagaimana bisa mereka menyatakan hal itu haram sedangkan aku meminumnya”
Syekh Ali Bin umar as-Syadziliy rahimahullah membuat gubahan syair tentang kopi:
ﻗَﻬْﻮَﺓُ ﺍﻟْﺒُﻦِّ ﻳَﺎ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟْﻐَﺮَﺍﻡْ * ﺳَﺎﻋَﺪَﺗْﻨِﻲْ ﻋَﻠَﻰ ﻃَﺮْﺩِ ﺍﻟْﻤَﻨَﺎﻡْ
ﻭَ ﺃَﻋَﺎﻧَﺘْﻨِﻲْ ﺑِﻌَﻮْﻥِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻋَﻠﻰ * ﻃَﺎﻋَﺔِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻢُ ﻧِﻴَﺎﻡْ
ﻗَﺎﻓُﻬَﺎ ﺍﻟْﻘُﻮْﺕُ ﻭَ ﺍﻟْﻬَﺎﺀُ ﺍﻟْﻬُﺪَﻯ * ﻭَﺍﻭُﻫَﺎ ﺍﻟْﻮُﺩُّ ﻭَ ﺍﻟْﻬَﺎﺀُ ﻫِﻴَﺎﻡْ
ﻻَ ﺗَﻠُﻮْﻣُﻮْﻧِﻲْ ﻋَﻠَﻰ ﺷُﺮْﺑِﻲْ ﻟَﻬَﺎ * ﺇِﻧَّﻬَﺎ ﺷُﺮْﺏُ ﺳَﺎﺩَﺍﺕٍ ﻛِﺮَﺍﻡٍ
Wahai orang-orang yang asyik dalam cinta sejati dengan-Nya, kopi membantuku mengusir kantuk. Dengan pertolongan Alloh, kopi menggiatkanku taat beribadah kepada-Nya di kala orang-orang sedang terlelap. [Qahwah (kopi)], qaf adalah quut (makanan), ha adalah hudaa (petunjuk), wawu adalah wud (cinta), dan ha adalah hiyam (pengusir kantuk). Janganlah kau mencelaku karena aku minum kopi, sebab kopi adalah minuman orang_orang yang mulia.
Suatu ketika as-Sayyid Ahmad bin Ali Bahr al-Qadimi jumpa dengan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan terjaga. Ia berkata kepada Nabi.:
“Wahai Rasulullah, aku ingin mendengar hadits darimu secara langsung tanpa perantara.”
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab: “Aku akan memberikan kepadamu 3 hadits:
Pertama; " Selama bau biji kopi Bun masih tercium aromanya di mulut seseorang, maka selama itu pula malaikat akan beristighfar (memintakan ampun) untuknya."
Kedua; Siapa saja yang membawa Subhah (tasbeh) dia akan dicatat sebagai orang yang berdzikir baik ia sedang gunakan berdzikir atau tidak."
Ketiga:" Siapa saja yang menziarahi seorang wali baik yang masih hidup atau yang telah wafat, maka dirinya mendapat keutamaan pahala orang yang beribadah di setiap sudut bumi sampai dirinya terpotong-potong."
Al-Habib Abu Bakr Bin Abdullah al-Atthas berkata; Tempat kosong yang tidak ada penghuninya sangat disukai oleh jin, sedangkan yang sering dijadikan tempat ngopi jin tidak betah berada di situ.
Diriwayatkan bahwa ada seorang ulama bernama Sayyid Ahmad Alawiy Bajahdab yang terkenal dengan sebutan Wali ngopi, karena beliau jarang sekali makan makanan pokok beserta lauk pauk berupa daging, ikan, madu dan lain-lain. Yang sehari~hari beliau konsumsi hanya minum susu. Minum kopi sudah menjadi wiridan harian beliau dan bila beliau berpuasa cukup sahur dan berbuka dengan kurma dan kopi manis. Pantes dach, kalau beliau kepangku julukan Wali Ngopi.
Keutamaan minum kopi sangat banyak baik buat lelaki maupun wanita. Di antaranya minum kopi 4 gelas kecil sehari dapat mengobati kanker rahim.
Adapun dzikir yang dianjurkan oleh para ulama sebelum minum kopi selain membaca Bismillah dan sholawat adalah membaca Ya Qowiyyu 116 kali. Lantaran lafazh ( ﺍﻟﻘﻬﻮﺓ ) dalam hitungan hasabul jumal kabir berjumlah 116, cocok dengan bilangan hasabul jumal asmaul husna ( ﺍﻟﻘﻮﻱ ) dengan minum kopi ngambil berkah nama Allah al-Qowiy Yang Maha Kuat agar menjadi kuat beribadah dan beraktivitas.
Kebiasaan ulama sadah alawiyin (Habaib dari Hadramaut Yaman) sebelum minum kopi mereka membaca tartibul fatihah milik al-Habib Ahmad Bin Ahmad al-Muhdhar rahimahullah sebagai berikut;
ﺍﻟﻔﺎﺗﺤﺔ ﻟﻤﺸﺎﻳﺦ ﺍﻟﻘﻬﻮﺓ ﺍﻟﺒﻨﻴﺔ ﻭﺍﻟﺴﺎﺩﺓ ﺍﻟﻌﻠﻮﻳﺔ ﻭﺍﻟﺼﻮﻓﻴﺔ ﻭﻛﻞ ﻭﻟﻲ ﻭﻭﻟﻴﺔ ﻭﻣﻦ ﺷﺮﺑﻬﺎ ﺑﻨﻴﺔ ﺍﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺼﻠﺢ ﺍﻟﻄﻮﻳﺔ ﻭﻳﻘﻀﻲ ﺍﻟﺤﻮﺍﺋﺞ ﺍﻟﺪﻳﻨﻴﺔ ﻭﺍﻟﺪﻧﻴﻮﻳﺔ ﺑﺠﺎﻩ ﺧﻴﺮ ﺍﻟﺒﺮﻳﺔ ﺍﻥ ﻳﺴﻬﻞ ﺍﻟﺒﻨﻴﻦ ﻭﺍﻟﻌﻮﻳﻦ ﻭﻳﻘﻀﻲ ﻋﻨﺎ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﻳﺼﻠﺢ ﺫﺍﺕ ﺍﻟﺒﻴﻦ ﺑﺠﺎﻩ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﻭﺍﻟﺤﺴﻴﻦ ﻭﻋﻤﺮﺍﻥ ﺑﻦ ﺍﻟﺤﺼﻴﻦ ﻭﺧﺪﻳﺠﺔ ﺯﻭﺟﺔ ﺳﻴﺪ ﺍﻟﻜﻮﻧﻴﻦ ﻭﺍﻟﻠﻰ ﺣﻀﺮﺓ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﺳﻠﻢ
Sanad Muttashil kepada Imam Abu Bakr Bin Abdullah al-Aidrus Radhiyallahu anhu, alFaqir riwayatkan sebagai berikut:
ﻓﻬﻤﻲ ﺗﻤﺎﺭﻱ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺎﺝ ﺭﺯﻗﻲ ﺫﻭ ﺍﻟﻘﺮﻧﻴﻦ ﺃﺻﻤﺖ ﺍﻟﺒﺘﺎﻭﻱ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺍﻟﻤﺴﻨﺪ ﺍﻟﺴﻴﺪ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﻜﺘﺎﻧﻲ ﻋﻦ ﻭﺍﻟﺪﻩ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﺴﻴﺪ ﻣﺤﻤﺪ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺤﻲ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ ﺍﻟﻜﺘﺎﻧﻲ ﺍﻟﺤﺴﻨﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻌﻤﺮ ﺍﻟﺴﻴﺪ ﺻﺎﻓﻲ ﺍﻟﺠﻔﺮﻱ ﺍﻟﻤﺪﻧﻲ ﻋﻦ ﺍﻟﺴﻴﺪ ﻃﺎﻫﺮ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ﻋﻦ ﺍﻟﺴﻴﺪ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺍﻟﻬﻨﺪﻭﺍﻧﻲ ﻋﻦ ﺃﺑﻴﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﺴﻴﺪ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﺸﻠﻲ ﺑﺎﻋﻠﻮﻱ ﺻﺎﺣﺐ " ﺍﻟﻤﺸﺮﻉ ﺍﻟﺮﻭﻱ " ﻭﻫﻮ ﻋﻦ ﻭﺍﻟﺪﻩ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﻋﻦ ﺷﻴﺨﻪ ﺍﻟﻌﺎﺭﻑ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻴﺪﺭﻭﺱ ﻋﻦ ﺻﻨﻮﻩ ﻭﺷﻴﺨﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻣﺤﻤﺪ ﻋﻦ ﻭﺍﻟﺪﻩ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﻌﺎﺭﻑ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﻴﺪﺭﻭﺱ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ .
Demikianlah paparan tentang asal muasal kopi dan khasiatnya, sekarang anda bisa menikmati kopi dengan sanad yang bersambung sampai kepada pertama pembuat kopi selamat menikmati...
By : Habib Muchsin Alattas

Dialog Gusdur dengan kang Santri

Saat santai KH.Abdurrahman Wahid atau sering di sapa gusdur selalu menyampatkan waktu untuk berdialog dengan santri, dengan gaya beliau yang suka guyonan namun bermakna, apa yg mereka bahas kali ini? Sepertinya seru nih? Ada nabi adam, ada surga ada neraka, wah bikin penasaran saja gus… zwes lsg kita simak saja, eh… dibaca deng.. monggo…

Santri : “Ini semua gara-gara Nabi Adam, ya Gus!”
Gus Dur : “Loh, kok tiba-tiba menyalahkan Nabi Adam, kenapa Kang.”
Santri : “Lah iya, Gus. Gara-gara Nabi Adam dulu makan buah terlarang, kita sekarang merana. Kalau Nabi Adam dulu enggak tergoda Iblis kan kita anak cucunya ini tetap di surga. Enggak kayak sekarang, sudah tinggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di Negara terkorup, sudah begitu jadi orang miskin pula. Emang seenak apa sih rasanya buah itu, Gus?”
Gus Dur : “Ya tidak tahulah, saya kan juga belum pernah nyicip. Tapi ini sih bukan soal rasa. Ini soal khasiatnya.”
Santri : “Kayak obat kuat aja pake khasiat segala. Emang Iblis bilang khasiatnya apa sih, Gus? Kok Nabi Adam bisa sampai tergoda?”
Gus Dur : “Iblis bilang, kalau makan buah itu katanya bisa menjadikan Nabi Adam abadi.”
Santri : “Anti-aging gitu, Gus?”
Gus Dur : “Iya. Pokoknya kekal.”
Santri : “Terus Nabi Adam percaya, Gus? Sayang, iblis kok dipercaya.”
Gus Dur : “Lho, Iblis itu kan seniornya Nabi Adam.”
Santri : “Maksudnya senior apa, Gus?”
Gusdur : “Iblis kan lebih dulu tinggal di surga dari pada Nabi Adam dan Siti Hawa.”
Santri : “Iblis tinggal di surga? Masak sih, Gus?”
Gus Dur : “Iblis itu dulunya juga penghuni surga, terus di usir, lantas untuk menggoda Nabi Adam, iblis menyelundup naik ke surga lagi dengan berserupa ular dan mengelabui merak sang burung surga, jadi iblis bisa membisik dan menggoda Nabi Adam.”
Santri : “Oh iya, ya. Tapi, walau pun Iblis yang bisikin, tetap saja Nabi Adam yang salah. Gara–garanya, aku jadi miskin kayak gini.”
Gus Dur : “Kamu salah lagi, Kang. Manusia itu tidak diciptakan untuk menjadi penduduk surga. Baca surat Al-Baqarah : 30. Sejak awal sebelum Nabi Adam lahir… eh, sebelum Nabi Adam diciptakan, Tuhan sudah berfirman ke para malaikat kalo Dia mau menciptakan manusia yang menjadi khalifah (wakil Tuhan) di bumi.”
Santri : “Lah, tapi kan Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di surga?”
Gus Dur : “Iya, sempat, tapi itu cuma transit. Makan buah terlarang atau tidak, cepat atau lambat, Nabi Adam pasti juga akan diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas dari-Nya, yaitu memakmurkan bumi. Di surga itu masa persiapan, penggemblengan. Di sana Tuhan mengajari Nabi Adam bahasa, kasih tahu semua nama benda. (lihat Al- Baqarah : 31).
Santri : “Jadi di surga itu cuma sekolah gitu, Gus?”
Gus Dur : “Kurang lebihnya seperti itu. Waktu di surga, Nabi Adam justru belum jadi khalifah. Jadi khalifah itu baru setelah beliau turun ke bumi.”
Santri : “Aneh.”
Gus Dur : “Kok aneh? Apanya yang aneh?”
Santri : “Ya aneh, menyandang tugas wakil Tuhan kok setelah Nabi Adam gagal, setelah tidak lulus ujian, termakan godaan Iblis? Pendosa kok jadi wakil Tuhan.”
Gus Dur : “Lho, justru itu intinya. Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak. Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau tidak melakukannya. Tapi bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan. Manusia itu pasti pernah keliru dan salah, Tuhan tahu itu. Tapi meski demikian nyatanya Allah memilih Nabi Adam, bukan malaikat.”
Santri : “Jadi, tidak apa-apa kita bikin kesalahan, gitu ya, Gus?”
Gus Dur : “Ya tidak seperti itu juga. Kita tidak bisa minta orang untuk tidak melakukan kesalahan. Kita cuma bisa minta mereka untuk berusaha tidak melakukan kesalahan. Namanya usaha, kadang berhasil, kadang enggak.”
Santri : “Lalu Nabi Adam berhasil atau tidak, Gus?”
Gus Dur : “Dua-duanya.”
Santri : “Kok dua-duanya?”
Gus Dur : “Nabi Adam dan Siti Hawa melanggar aturan, itu artinya gagal. Tapi mereka berdua kemudian menyesal dan minta ampun. Penyesalan dan mau mengakui kesalahan, serta menerima konsekuensinya (dilempar dari surga), adalah keberhasilan.”
Santri : “Ya kalo cuma gitu semua orang bisa. Sesal kemudian tidak berguna, Gus.”
Gus Dur : “Siapa bilang? Tentu saja berguna dong. Karena menyesal, Nabi Adam dan Siti Hawa dapat pertobatan dari Tuhan dan dijadikan khalifah (lihat Al-Baqarah: 37). Bandingkan dengan Iblis, meski sama-sama diusir dari surga, tapi karena tidak tobat, dia terkutuk sampe hari kiamat.”
Santri : “Ooh…”
Gus Dur : “Jadi intinya begitulah. Melakukan kesalahan itu manusiawi. Yang tidak manusiawi, ya yang iblisi itu kalau sudah salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya justru malah merasa bener sendiri, sehingga menjadi sombong.”
Santri : “Jadi kesalahan terbesar Iblis itu apa, Gus? Tidak mengakui Tuhan?”
Gus Dur : “Iblis bukan atheis, dia justru monotheis. Percaya Tuhan yang satu.”
Santri : “Masa sih, Gus?”
Gus Dur : “Lho, kan dia pernah ketemu Tuhan, pernah dialog segala kok.”
Santri : “Terus, kesalahan terbesar dia apa?”
Gus Dur : “Sombong, menyepelekan orang lain dan memonopoli kebenaran.”
Santri : “Wah, persis cucunya Nabi Adam juga tuh.”
Gus Dur : “Siapa? Ente?”
Santri : “Bukan. Cucu Nabi Adam yang lain, Gus. Mereka mengaku yang paling bener, paling sunnah, paling ahli surga. Kalo ada orang lain berbeda pendapat akan mereka serang. Mereka tuduh kafir, ahli bid’ah, ahli neraka. Orang lain disepelekan. Mereka mau orang lain menghormati mereka, tapi mereka tidak mau menghormati orang lain. Kalau sudah marah nih, Gus. Orang-orang ditonjokin, barang-barang orang lain dirusak, mencuri kitab kitab para ulama. Setelah itu mereka bilang kalau mereka pejuang kebenaran. Bahkan ada yang sampe ngebom segala loh.”
Gus Dur : “Wah, persis Iblis tuh.”
Santri : “Tapi mereka siap mati, Gus. Karena kalo mereka mati nanti masuk surga katanya.”
Gus Dur : “Siap mati, tapi tidak siap hidup.”
Santri : “Bedanya apa, Gus?”
Gus Dur : “Orang yang tidak siap hidup itu berarti tidak siap menjalankan agama.”
Santri : “Lho, kok begitu?”
Gus Dur : “Nabi Adam dikasih agama oleh Tuhan kan waktu diturunkan ke bumi (lihat Al- Baqarah: 37). Bukan waktu di surga.”
Santri : “Jadi, artinya, agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati?”
Gus Dur : “Pinter kamu, Kang!”
Santri : “Santrinya siapa dulu dong? Gus Dur.”

Tidak Jamin Masuk Surga

Selasa, 11 Agustus 2009 14:02 Seorang pemuda, ahli amal ibadah datang ke seorang Sufi. Sang pemuda dengan bangganya mengatakan kalau dirinya sudah melakukan amal ibadah wajib, sunnah, baca Al-Qur’an, berkorban untuk orang lain dan kelak harapan satu satunya adalah masuk syurga dengan tumpukan amalnya.

Bahkan sang pemuda tadi malah punya catatan amal baiknya selama ini dalam buku hariannya, dari hari ke hari.
“Saya kira sudah cukup bagus apa yang saya lakukan Tuan…”
“Apa yang sudah anda lakukan?”
“Amal ibadah bekal bagi syurga saya nanti…”
“Kapan anda menciptakan amal ibadah, kok anda merasa punya?”
Pemuda itu diam…lalu berkata,
“Bukankah semua itu hasil jerih payah saya sesuai dengan perintah dan larangan Allah?”
“Siapa yang menggerakkan jerih payah dan usahamu itu?”
“Saya sendiri…hmmm….”
“Jadi kamu mau masuk syurga sendiri dengan amal-amalmu itu?”
“Jelas dong tuan…”
“Saya nggak jamin kamu bisa masuk ke syurga. Kalau toh masuk kamu malah akan tersesat disana…”
Pemuda itu terkejut bukan main atas ungkapan Sang Sufi. Pemuda itu antara marah dan diam, ingin sekali menampar muka sang sufi.
“Mana mungkin di syurga ada yang tersesat. Jangan-jangan tuan ini ikut aliran sesat…” kata pemuda itu menuding Sang Sufi.
“Kamu benar. Tapi sesat bagi syetan, petunjuk bagi saya….”
“Toloong diperjelas…”
“Begini saja, seluruh amalmu itu seandainya ditolak oleh Allah bagaimana?”
“Lho kenapa?”
“Siapa tahu anda tidak ikhlas dalam menjalankan amal anda?”
“Saya ikhlas kok, sungguh ikhlas. Bahkan setiap keikhlasan saya masih saya ingat semua…”
“Nah, mana mungkin ada orang yang ikhlas, kalau masih mengingat-ingat amal baiknya? Mana mungkin anda ikhlas kalau anda masih mengandalkan amal ibadah anda?
Mana mungkin anda ikhlas kalau anda sudah merasa puas dengan amal anda sekarang ini?”
Pemuda itu duduk lunglai seperti mengalami anti klimaks, pikirannya melayang membayang bagaimana soal tersesat di syurga, soal amal yang tidak diterima, soal ikhlas dan tidak ikhlas.
Dalam kondisi setengah frustrasi, Sang sufi menepuk pundaknya.
“Hai anak muda. Jangan kecewa, jangan putus asa. Kamu cukup istighfar saja. Kalau kamu berambisi masuk syurga itu baik pula. Tapi, kalau kamu tidak bertemu dengan Sang Tuan Pemilik dan Pencipta syurga bagaimana? Kan sama dengan orang masuk rumah orang, lalu anda tidak berjumpa dengan tuan rumah, apakah anda seperti orang linglung atau orang yang bahagia?”
“Saya harus bagaimana tuan…”
“Mulailah menuju Sang Pencipta syurga, maka seluruh nikmatnya akan diberikan kepadamu. Amalmu bukan tiket ke syurga. Tapi ikhlasmu dalam beramal merupakan wadah bagi ridlo dan rahmat-Nya, yang menarik dirimu masuk ke dalamnya…”
Pemuda itu semakin bengong antara tahu dan tidak.
“Begini saja, anak muda. Mana mungkin syurga tanpa Allah, mana mungkin neraka bersama Allah?”
Pemuda itu tetap saja bengong. Mulutnya melongo seperti kerbau. (sfn)

Kisah Uang Rp 1000 dan Rp 100.000

Uang Rp 1000 dan Rp 100.000 sama2 terbuat dari kertas, sama2 dicetak dan dari Bank Indonesia..Pada saat bersamaan mereka keluar dan berpisah dari Bank dan beredar dimasyarakat.. 3 bulan kemudian mereka bertemu lagi secara tidak sengaja didalam dompet seorang pemuda..

Kemudian diantara kedua uang tsb terjadilah percakapan yg Rp 100.000 bertanya kepada yg Rp 1000, …”kenapa badan kamu begitu lusuk,kotor,dan bau amis…?” dijawablah olehnya “karena aku begitu keluar dari Bank langsung ditangan orang2 bawahan dari tukang becak, tukang sayur, penjual ikan dan ditangan pengemis” lalu Rp 1000 bertanya balik pada Rp 100.000,” Kenapa kamu kelihatan begitu baru,rapi dan masih bersih?” dijawabnya, “karena begitu aku keluar dari Bank, langsung langsung disambut perempuan cantik dan beredarnya pun di restauran mahal, di Mall dan juga dihotel-hotel berbintang serta keberadaanku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet” lalu Rp 1000 bertanya lagi,” pernahkah engkau mampir ditempat Ibadah? ” dijawablah…”Belum pernah” Rp 1000 pun berkata lagi,” ketahuilah walaupun keadaanku seperti ini adanya, setiap Jum’at aku selalu mampir di MESJID dan ditangan anak2 Yatim, bahkan aku selalu bersyukur kepada TUHAN. Aku tidak dipandang manusia bukan sebuah nilai tapi yg dipandang adalah sebuah manfaat… “Akhirnya menangislah uang Rp 100.000 karena merasa besar, hebat, tinggi tapi tidak begitu bermanfaat selama ini. Jadi…bukan seberapa besar penghasilan Anda, tapi seberapa bermanfaatnya penghasilan anda itu. Karena kekayaan bukanlah untuk kesombongan… Semoga kita termasuk golongan orang2 yg selalu mensyukuri nikmat dan memberi manfaat untuk semesta alam serta dijauhkan dari sifat SOMBONG.. Aamiin … _____________ Semoga Bermanfaat…