-->
Cahaya Ilmu, Penenang Qolbu

Mecari cahaya dalam cahaya

Tentang kasus Gus muafiq, begini reaksi abah Hanif Muslih Mranggen


lilinqolbu - Media sosial akhir diramaikan dengan kasus pemotongan vidieo ceramah gus muafiq dan menjadi Viral, hal inipun membuat abah hanif muslih, pengasuh ponpes bereaksi,
beliau menulis status dalam Facebook sebagai berikut.

 Urun rembug, mudah2an bisa menyadarkan kita, apakah Gus Muwafiq salah dalam kata2nya yang menyebutkan Nabi Muhammad kecil pernah REMBES, atau sakit mata beliau
diantara temen kita ada yang membully sedemikian rupa, sepertinya dia telah menjatuhkan martabat Nabi, menghina Nabi, dan ada yang menggolongkannya boleh dibunuh Wal-Iyadhu Billah

Terimakasih Gus Muwafiq, antum telah banyak menyadarkan banyak orang untuk kembali ngaji kitab2 klasik, yang telah banyak ditinggalkan banyak orang pinter.
berikut kutipan nash2 kitab yang menjelaskan bahwa, Nabi Muhammad kecil ketika umur 7 tahun, beliau sempat sakit mata yang sangat amat "Romadun Syadidun", yang dimaknai oleh Gus Muwafiq dengan REMBES, simak baik2 berikut ini (ma'af tidak saya terjemah) :

ومنها ما ذكره ابن الجوزي من أنه صلى الله تعالى عليه وعلى آله وسلم أصابه رمد شديد سنة سبع من مولده فعولج في مكة فلم يفد العلاج فقيل لعبد المطلب إن في ناحية عكاظ راهبًا يعالج الأعين فركب إليه فناداه وديره مغلق فلم يجبه فتزلزل ديره حتى خاف أن يسقط عليه فخرج مبادرًا فقال يا عبد المطلب إن هذا الغلام نبي هذه الأمة ولو لم أخرج إليك لخرب على ديري فارجع به واحفظه لا يقتله بعض أهل الكتاب فعالجه وأعطاه ما يعالج به. وفي رواية أنّ الراهب 
أخرج صحيفة وجعل ينظر إليها وإلى رسول الله صلى الله تعالى عليه وعلى آله وسلم ثم قال هو والله خاتم النبيين ثم قال يا عبد المطلب هذا رمد قال نعم قال إن دواءه معه خذ من ريقه وضعه على عينيه فأخذ عبد المطلب من ريقه صلى الله تعالى عليه وعلى آله وسلم ووضعه على عينيه فبرئ لوقته.
ثم قال الراهب يا عبد المطلب وتالله هذا الذي أقسم على الله به فأبرئ المرضى وأشفي الأعين من الرمد.
[الكتاب: المنهل العذب المورود شرح سنن الإمام أبي داود - المؤلف: محمود محمد خطاب السبكي/ 9: 98-99]
• وفي السنة السابعة من مولده صلى الله عليه وسلم استقل بكفالته جده عبد المطلب وفيها اصابه صلى الله عليه وسلم رمد شديد وفيها استسقى عبد المطلب وهو صلى الله عليه وسلم معه بسبب رؤيا دقيقة وفيها خرج عبد المطلب لتهنئة سيف بن ذي يزن الحميري بالملك [الكتاب : السيرة الحلبية في سيرة الأمين المأمون - المؤلف : علي بن برهان الدين الحلبي/ 3 : 487]
• الباب الرابع فيما حصل له في سنة سبع من مولده
• قال الحافظ أبو الفرج ابن الجوزي في (الوفا) في سنة سبع من مولده صلى الله عليه وسلم أصابه رمد شديد فعولج بمكة فلم يغن فقيل لعبد المطلب: إن في ناحية عكاظ راهبا يعالج الأعين فركب إليه فناداه وديره مغلق فلم يجبه فتزلزل ديره حتى كاد أن يسقط عليه فخرج مبادرا فقال: يا عبد المطلب إن هذا الغلام نبي هذه الأمة ولو لم أخرج إليك لخر علي ديرى فارجع به
واحفظه لا يقتله بعض أهل الكتاب. ثم عالجه وأعطاه ما يعالج به. وألقي له المحبة في قلوب قومه وكل من يراه. 
عكاظ: بضم العين وآخره ظاء مشالة معجمة: مكان بقرب عرفات.
[الكتاب : سبل الهدى والرشاد، في سيرة خير العباد، وذكر فضائله وأعلام نبوته وأفعاله وأحواله في المبدأ والمعاد - المؤلف : محمد بن يوسف الصالحي الشامي / 2:134]
وكذا في سمط النجوم العوالي في أنباء الأوائل والتوالي لعبد الملك بن حسين بن عبد الملك العصامي المكي

Gus Muwafiq Jannur Ahmad mondok/belajar di mana?


lilinqolbu - Gus Mufafiq ulama yang sangat luas ilmu agamanya, sejarah secara runtut beliau ceritakan ketika berdakwah.

Namun akhir - akhir ini nama beliau rame di media sosial karena video salah satu ceramah beliau di cut/potong oleh orang - orang yang tidak bertanggung jawab.

walau begitu gus Mufafiq tetap klarifikasi dan dengan kerendahan hati memohon maaf.

Gus Muwafiq berasal dari Lamongan Jawa Timur. Mendapat didikan awal dari ayahnya, yang berguru di Pondok Pesantren Langitan, kepada Mbah Faqih, dari Mbah Abdul Hadi, dst. nyambung sampai ke Sunan Kalijaga.

Gus Muwafiq juga pernah mondok di Lirboyo, kakak seniornya Kiai Mukti Ali Qusyairi. Sekarang putri Gus Muwafiq pun sedang nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

Beliau juga pernah mondok di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton. Mendapat sanad kitab Hikam Ibn Athaillah melalui kiai di Bungah Gresik yang ngaji kepada Hadratussyaikh KH. Masduqi Lasem. Info ini seperti diceritakan langsung Gus Muwafiq kepada Gus Atiq Hadi Masruri PP At-Taufiqi Wonopringgo Pekalongan.

Gus Muwafiq adalah seorang santri yang aktivis. Diantara teman perjuangannya selama puluhan tahun adalah Mbah Ompit Tawallani.

Gus Muwafiq juga mendapat didikan langsung dari Gus Dur. Tulisan tentang ini banyak tersebar di belantara medsos.

Dalam dunia akademik, Gus Muwafiq satu almamater dengan Kiai Ibrohim Nawawi. Bahkan menurut Bib Noval Kun Maliki, Gus Muwafiq pernah jadi pimred di salah satu media massa, atau wartawan senior.

Sedikitnya itu yang bisa saya infokan.

6 NASEHAT KH. MAIMOEN ZUBAIR KEPADA KITA SEMUA



lilinqolbu - Kyai Haji Maimun Zubair adalah seorang ulama dan politikus, saat ini ia merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang dan menjabat sebagai Ketua Majlis Syariah Partai Persatuan Pembangunan. Beliau pernah menjadi Anggota DPRD Kab.Rembang Selama 7 Tahun.

Banyak Ilmu yang dapat kita ambil dari beliau dan beliau juga tak pernah lelah membari nasehat kepada kita semua. Berikut 6 Nasihat dari beliau yang sangat bermanfaat bagi kita.

1. ojo kakean suudzon mundak peteng atilan rekoso urip (jangan sering buruk sangka biar hatimu tidak gelap dan tidak hidup sengsara)

2. benci ojo nemen2 mundak nyanding (jangan terlalu benci nanti malah nempel)

3. kudu wani ngetoke gagah senajan rasane kudu nangis (harus berani tampil kuat meski sebenarnya pengen nangis)

4. aku seneng karo wong sing ora patio weruh donyo (aku suka dengan orang yang tidak begitu mengurusi harta dunia)

5. yen duwe karep kok durung istitho'ah ojo dipikir nemen2 mundak cepet mati (kalau punya keinginan tapi kok belum mampu maka jangan terlalu dipikir supaya tidak cepat mati)

6. santri yen wes muleh kudu wani istiqomah (santri kalau sudah pulang kampung dari tempat belajar/pondok pesantren harus berani istiqomah)


Kuasai Medsos Untuk mempertahankan Tradisi dan budaya

lilinqobu - Merawat Tradisi Lama Yang Syar'i Tanpa Ketinggalan Zaman - Tradisi merupakan hasil daya pikir umat manusia yg harus dilestarikan. Tradisi yang baik adalah yang tidak bertentangan dengan syariat dan harus dipelihara, dirawat dan dilestarikan karena merupakan aset berharga yang kita miliki.

Ada beberapa tradisi dusun bengkah yang merupakan ciri khas dan pembeda dari dusun yg lainnya. Pada dasarnya tradisi tersebut diciptakan oleh para leluhur yakni di mulai pada masa simbah Abdullah Dimyathi, simbah Dzanuri, para santri serta masyarakat bengkah pada umumnya. Di antara tradisi tersebut antara lain pembacaan qosidatul burdah dengan lagu, nada dan intonasi yg khas, puji-pujian khusus pada bulan ramadhan, Sholawat, marhaban yaa syahro romadhon dg lagu yg khas, tradisi mapak tanggal, nisfu sya'ban, ciduran, khlotekan dan sebagai berikutnya.

Tradisi-tradisi  tersebut sangat berhaga nilainya karena adat istiadat merupakan aset kekayaan kita khususnya warga bengkah. Di tengah maraknya Arabisasi dan westernisasi saat ini maka menghidupkan dan menggairahkan kembali tradisi-tradisi tersebut, menjaga, merawat serta melestarikannya merupakan suatu kewajiban yang harus kita lakukan.

sebagaimana maqolah :

المحافظۃ علی القديم الصالح والاخذ بالجديد الاصلح

Akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa kita hidup di era milenial yg penuh denga tantangan. Kemajuan dalam teknologi informatika, otomotif dan yg lainnya mewajibkan kita utk bisa mengikutinya, jika  tidak maka kita akan tergilas oleh zaman. Sekarang banyak sekali media  sosial yang muncul di antaranya wa, fb, instagram dan sebagai berikutnya. Yg mana dengan media-media tersebut informasi sangat cepat sekali menyebar. 


Oleh karena itu kita harus pandai memanfaatkan media Sosial tersebut, terlebih untuk melestarikan tradisi yang kita miliki dengan merekam, memfoto meng upload dan menyebarkan  acara - acara tersebut ( Gus Ulil Bengkah )

Cak Nun : Gusti Allah Ora Ndeso



Suatukali Emha Ainun Nadjib yang akrab dengan sapaan cak nun ini ditodong dengan pertanyaan beruntun.

"Cak Nun," kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi
tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu:
1. Pergi ke masjid untuk shalat Jumat.
2. Mengantar pacar berenang.
3. Atau mengantar tukang becak miskin ke rumahs sakitakibat tabrak lari, mana yang sampeyan
pilih ?"

Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan... !!"
"Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang ?" kejar si penanya.
"Ah, mosok Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun.
"Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanyam maumasuk surga tidak ngajak-ngajak, " katanya lagi. "
Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi. Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. 

Kata Tuhan : Kalau engkau menolong orang sakit, Aku-lah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Aku-lah yang kesepian itu.

Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Aku-lah yang kelaparan itu.
Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Shalat memang wajib tapi utk Allah(tidak dipamerkan kepada orang lain).
Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis,cinta kasih, kemesraan dengan orang lain,memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu seharusnya memang mesti shalat, ikut misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak.
Agama adalah perilaku.
Agama adalah sikap.
Agama mengajarkan pada kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama.

Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-Quran, pergi ke kebaktian, ikut misa, datang ke pura. Menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. 
Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, menyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama. Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan hanya dari kesalehan personalnya, melainkan juga kesalehan sosial.

Orang beragama adalah orang yang bisa
menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama.

Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya.

Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan... !"
(Emha Ainun Najib) (BBC)

Gus Muwafiq,Ulama muda Nahdiyin Ahli Sejarah

Gus Muwafiq, begitu biasa dikenal banyak orang, beralamat tinggal di Perum Jombor Pratama No. 19, Mlati, Sleman, Yogyakarta. Dari jalan layang Jombor, turun ke bawah, ada Indomaret depan Terminal Jombor sekaligus pangkalan ojek. Dari situ masuk menuju Perumahan Jombor Baru lurus mentok, kemudian ke kanan 200an meter. Sebelum masjid/makam, ada perumahan. Depannya berdiri bendera hijau lambang Nahdlatul Ulama. Di situlah tempat tinggal Gus Muwafiq.
Nama lengkapnya Ahmad Muwafiq. Orang biasa menyebutnya Kiai Muwafiq, Gus Muwafiq atau Cak Afiq. Berbadan tinggi besar, kulitnya hitam kecoklatan dan berrambut gondrong. Ia dulu kuliah di IAIN Jogjakarta dan menadi aktivis pergerakan. Pernah menjadi Sekjend Mahasiswa Islam se-Asia Tenggara. Kemudian ketika Gus Dur menjadi presiden, ia menjadi asisten pribadinya.
Selain selesai dalam soal agama karena alumnus pesantren, ia dikenal luas pemahaman politik dan sejarahnya. Juga, terkenal jadug atau kebal. Konon, ketika Gus Dur akan dilengserkan pada Mei 2001, ia di depan pasukan berani mati, sendirian mengangkat mobil panser milik TNI dengan tangan kirinya. Peristiwa itu kemudian diabadikan oleh wartawan dan menjadi headline di Kompas.
Dai untuk Millenial Zaman Now
KH. Achmad Muwafiq, S.Ag.
Jika kamu – para generasi millenials – ingin mencari pendakwah Islam yang teduh, inspiratif dan kaya akan makna, namun juga santai (tidak radikal), ada banyak para dai atau pendakwah yang keren. Salah satunya adalah pendakwah kelahiran Lamongan, yang kini tinggal di Yogyakarta: Kiai Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq.

Jadi, jika kamu ingin ngaji online via YouTube, tak ada salahnya – baik sekali malah – jika kamu ketik di kolom pencarian YouTube dengan nama “Gus Muwafiq”, yang membahas pelbagai tema dan persoalan mutakhir. Mengapa Gus Muwafiq? Berikut beberapa alasan yang perlu menjadi pertimbangan. Sehingga, kamu menjadi lebih mantap dalam menyimaknya.
Pertama, santri yang mumpuni. Gus Muwaffiq merupakan santri yang sudah lama mengenyam pendidikan pesantren – sebuah lembaga pendidikan tertua di Indonesia – sehingga pemahaman keagamaan beliau mumpuni dan khas. Khasnya adalah pemahaman Islam yang dianut mayoritas muslim Indonesia. Muslim Indonesia merupakan muslim yang menganut madzhab empat, khususnya Imam Syafi’i yang lebih dominan. Selain itu, Islam jebolan pesantren terbukti mampu “kawin” dengan tradisi dan budaya Nusantara. Jadi, soal khasanah Islam dalam al-Quran, hadits maupun kitab-kitab klasik, beliau mumpuni.
Kedua, paham sejarah dan hafal. Gus Muwafiq merupakan sosok yang sadar dan paham sejarah. Mengapa sejarah penting? Karena dengan berpijak pada sejarah itulah kita umat Islam membangun masa depan. Dan beliau, paham sejarah baik dari teori penciptaan alam semesta, jaman nabi-nabi, sejarah Islam pasca Nabi Muhammad Saw., geo-ekopol Internasional, sampai sejarah Nusantara. Oh ya, hafalan beliau juga sangat kuat. Tidak hanya mengerti tetapi memahami. Berbagai silsilah keilmuan, tokoh maupun dinasti beliau hafal di luar kepala. Ini memudahkan kamu dalam mencerna pola-pola dalam belajar agama.
Ketiga, Mantan aktivis. Sebelum keliling dakwah seperti sekarang, beliau telah mumpuni menjadi aktivis kampus. Gus Muwafiq aktif di lingkaran PMII dan Mahasiswa NU. Pengembaran Intelektual dan “Jalanan”-nya beliau tempuh dari kota pelajar: di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sampai ke Mancanegara karena pernah menjadi Sekretaris Jenderal Mahasiswa Islam se-Asia Tenggara. Salah satu keunggulan aktivis muslim adalah tahu konsep (dan wacana Islam kontemporer), tahu medan, tahu peta politik, dan bergelut dengan realitas. Wajar kalau beliau – selain keliling Indonesia – juga sering diundang ceramah ke luar negari.
Keempat, humoris. Jangan heran kalau kamu berlama-lama menyimak pengajian beliau (entah online maupun offline), tak bosan karena pembawaannya yang kocak dan penuh dengan humor. Humor memang menjadi penting dalam suatu ceramah karena membuat jamaah tidak ngantuk, tidak jenuh dan menjadikan otak kembali fresh.
Kelima, mudah dicerna. Bahasa yang beliau gunakan adalah bahasa para audiens-nya. Jika di kampus dengan para mahasiswa atau akademisi, beliau bisa dengan bahasa ilmiah. Jika dengan masyarakat awam, beliau bisa cerita dengan nalar, tradisi dan psikologi umum masyarakat. Jika dengan para pemuda, beliau juga bisa santai dan tahu apa yang hits dan menjadi tantangan generasi muda hari ini. Meski demikian, dalam penggunaan bahasa Indonesia kadang beliau ada beberapa hal yang kurang (menurut saya). Dan ini pernah diakui beliau. Secara, beliau mengaku menggunakan bahasa Indonesia baru semenjak kuliah. Sebelum itu menggunakan bahasa Jawa, khususnya Jawa Timuran.
Itulah sekilas sosok Gus Muwafiq yang mungkin sedikit membantu memantapkan kamu para generasi millenials zaman now dalam memilih dai, jika ingin mendengarkan pengajian online via YouTube. Jangan sampai salah memilih pendakwah, karena akibatnya kamu bisa terprovokasi. Alih-alih mendapat ilmu, dapatnya malah kebencian (bahkan yang ekstrim) saling mengkafirkan sesama Islam. Jadi, selamat menikmati pengajian-pengajiannya!
(Oleh: Ahmad Naufa KF/Syaroni As-Samfuriy)

Sang Kyai Kharismatik KH. Husein Ilyas


Beliau kiyai kharismatik segudang karomah asal Mojokerto & termasuk masih keturunan raja Brawijaya V, Ronggo Wasito.
Salah satu karomahnya adalah dulu Jepang memberlakukan jam malam, rakyat Indonesia dilarang keluar kalau sudah menjelang sore. Bertani pun tidak boleh dipanen sendiri. Dan akan ditembak di tempat jika membangkang. Ternyata dibalik itu, pada malam hari mereka mengangkuti hasil panen rakyat dibawa ke negaranya untuk kebutuhan logistik Perang Asia Timur Raya. Inilah yg kerap disebut tanam paksa.
Singkat cerita ada petani yg nekat memanen malam hari ketahuan tentara Jepang, ditembaklah petani tsb. Kemudian anaknya minta bantuan ke Kiyai Husein muda.
Yai Khusen pun akhirnya mengajak teman2nya ke sawah untuk memanen padi menjelang Maghrib. Kemudian Yai Khusen didatangi beberapa tentara Jepang yg sedang berjaga dg membawa anjing. Melihat Mbah Yai Khusen, anjing tentara Jepang tsb. malah lari menjauhi Mbah Yai. Sehingga sebagian tentara Jepang itu malah kerepotan mengejar anjingnya yg lari.
Sementara tentara Jepang yg lain, menodongkan senjata pada Mbah Yai Khusen dan teman2nya. Tiba2 senjata yg ditodongkan ke arah Mbah Yai itu meleleh. Tentara2 itu pun karena takutnya lari tunggang langgang. Itu cerita versi mas Fahmi Ali.

http://gudangsoft.net/

Versi saya. Dulu saya punya teman riyadhoh di makam Syech Sayyid Jumadil Kubra Troloyo, insyaAllah beliau sekarang masih di sana. Ia adalah murid kiyai Husein. Saat pertama mau nyantri ke yai Husein, ia "ngetes" yai. Sebelum sowan teman saya tadi bergumam, "kalau memang Yai Husein adalah kiyai yg ahli "kasyf", (ngerti bongso batin) pasti tahu apa yg ada di dalam hatiku." Akhirnya benar, setelah ia sowan, ditelanjangi semua yg ada di hati teman saya tadi. Dan perlu diketahui bahwa di antara makam2 di Troloyo yg belum ada namanya, ia lah memberi nama.
Semoga beliau diberikan Umur panjang.
Senantiasa sehat, sehingga dapat selalu "ngemong" rakyat Mojokerto karena beliau lah paku buminya tanah Majapahit. (Pak Basyar)

Kisah Mbah Malik yang Tidak Terbangun Tiga Tahun Tanpa Makan dan Minum

Syaikh al-‘Arif Billah Abdul Malik bin Ilyas Purwokerto (Mbah Malik), adalah orang yang sangat alim dan hafidz (hafal al-Quran). Dulu pernah terjadi, sebelum shalat Dzuhur beliau terbiasa melakukan shalat sunnah Qabliyah, dan setelahnya dilanjutkan membaca shalawat bersama jamaahnya dari jam 12 siang sampai jam 13:30 WIB.
“Shallallahu ‘ala Muhammad...” tepat jam 13:30 selesai, iqamat pun berkumandang tanpa komando karena sudah menjadi adat kebiasaannya.
Meski sudah dikomati, Mbah Malik masih tetap duduk terdiam, tidak bangun dan hanya tasbihnya saja yang masih jalan. Ditunggu lama Mbah Malik tak kunjung bangun hingga waktu Dzuhur hampir habis. Akhirnya shalat pun terpaksa dikerjakan berjamaah dipimpin Kiai Isa, adik ipar Mbah Malik.
Sampai malam hari Mbah Malik belum juga bangun, padahal kondisinya normal tidak ada gejala apapun yang mencurigakan. Sampai 3 hari, seminggu, sebulan, hingga bertahun-tahun lamanya tidak ada yang berani membangungkan. Tidak ada perubahan sedikitpun yang mencurigakan kecuali setiap harinya wajah Mbah Malik semakin yatala'la (mencorong bersinar) nurnya.
Baru setelah 3 tahun berlalu, Mbah Malik tiba-tiba bangun persis pada jam 13:30 WIB. “Qamat... qamat...” pinta beliau. Lalu semuanya berdiri untuk shalat berjamaah dan Mbah Malik sebagai imamnya.
Herannya, shalat beliau berlangsung dengan normal seperti biasanya, tanpa lemah ataupun limbung, padahal “ la yasyrab wala ya’kul ” (tidak makan dan tidak minum) selama tiga tahun. Itulah maqam fana’ yang pernah dialami Mbah Malik.
Selesai shalat, Mbah Malik bertanya, “Lha si anu mana? Si itu ke mana?”
“Mereka sudah meninggal Kiai,” jawab para santri.
“Lha tadi masih bareng shalawatan koq,” ucap Mbah Malik kaget sebelum mengetahui sudah 3 tahun dirinya baru terbangun. Subhanalloh semoga kita mendapat madad asror barokah wal fuyudhot Para sadah alawi dan waliyulloh jawa Aamiin

DOA HADROTUSY SYAIKH HASYIM ASY'ARI

Pada 2009, seorang Kader Muda Nahdlatul Ulama (NU) yang juga Alumnus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang bersama M Mansyur diutus oleh KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) untuk menemui KH Abdul Muchith Muzadi di kota Jember, Jawa Timur. Saat itu, Gus Sholah meminta kepada mereka untuk menggali kisah-kisah Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari melalui Kiai Muchith yang merupakan santri langsung Hadratusy Syaikh.
Hasil dari wawancara eksklusif dua hari itu alhamdulillah menjadi sebuah buku yang diterbitkan oleh Pustaka Tebuireng. Di sela-sela mewawancarai Kiai Muchith, mereka berdiskusi panjang dengan Kiai Nur, kiai yang merupakan Alumnus Pondok Pesantren Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Dengan ketulusan hati, beliau mempersilakan mereka untuk menginap di rumahnya selama berada di Jember. Dan, sebuah kebetulan yang sangat luar biasa, di rumah beliau itu mereka menemukan sebuah dokumen yang sangat penting. Isinya adalah sebuah doa Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari yang dikhususkan untuk NU. Berikut adalah do’a tersebut:
DO’A HADRATUSY SYAIKH KH MUHAMMAD HASYIM ASY’ARI UNTUK NAHDLATUL ULAMA
:دعاء حضرة الشيخ كياهي حاجي محمد هاشم أشعري رحمه الله
اَللّٰهُمَّ أَيْقِظْ قُلُوْبَ الْعُلَمَاءِ وَالْمُسْلِمِيْنَ مِنْ نَوْمِ غَفْلَتِهِمِ الْعَمِيْقِ وَاهْدِهِمْ إِلَى سَبِيْلِ الرَّشَادِ. اَللّٰهُمَّ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ أَحْيِ جَمْعِيَّتَنَا جَمْعِيَّةَ نَهْضَةِ الْعُلَمَاءِ حَيَاةً طَيِّبَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ بِبَرَكَةِ “فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً (النحل: ٩٧)”، “فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِيْ إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ (ابراهيم: ٣٧)” وَارْزُقْهُمْ قُوَّةً غَالِبَةً عَلَى كُلِّ بَاطِلٍ وَظَالِمٍ وَفَاحِشٍ وَسُوْءٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
(٣x بعد المفروضة)
أجازنا الشيخ خطيب عمر، عن والده الشيخ عمر، عن الشيخ أسعد شمس العارفين، عن حضرة الشيخ محمد هاشم أشعري رحمهم الله

Bismillahirrochmanirrochim. Allohumma aiqizh qulubal ‘ulamai wal muslimina min naumi ghoflatihimil ‘amiq wahdihim ila sabilirrasyad. Allohumma ya Chayyu ya Qoyyum, ahyi jam’iyyatana Jam’iyyata Nahdlotil Ulamai chayatan thoyyibatan ila yaumil qiyamah bibarakati “Falanuhyiyannahu chayatan thayyibah”, “Faj’al af-idatan minannasi tahwi ilaihim warzuqhum minatssamarati la’allahum yasykurun”, Warzuqhum quwwatan ghalibatan ‘ala kulli bathilin wa zhalimin wa fachisyin wa su’un la’allahum yattaqun.
Artinya:
“Ya Allah, bangunkanlah hati para ulama dan umat Islam dari kelalaian yang dalam dan berkepanjangan dan tuntunlah mereka ke jalan petunjukMu. Ya Allah, yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, hidupkanlah Jam’iyah kami Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) dengan kehidupan thoyyibah (kehidupan yang baik sesuai kehendakMu) hingga hari Kiamat dengan berkah ayat:
فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً (النحل: ٩٧)، فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِيْ إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ (ابراهيم: ٣٧)1
(Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (Qur’an Surat An-Nahl:97). Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur (Qur’an Surat Ibrahim: 37). Dan karuniakanlah mereka rizqi (berupa) kekuatan yang mengalahkan kebathilan, kedzaliman, ketidaksenonohan dan keburukan agar mereka bertaqwa".

Pesan - Pesan Singkat Abah Syech

Sekali waktu pada malam menjelang dini hari,
Refleksi lugas serta rendah hati yang tersirat dalam pesan singkat beliau ini, tak ayal -bagi pembacanya- ibarat seperti menemukan Oase dibawah terik panasnya mentari di sebuah gurun pasir yang luas dan tandus. Haus dahaga yang dirasakan seketika ‘terbayar lunas’ manakala merasakan sensasi mengalirnya air Oase -yang sejuk itu- masuk ke dalam rongga mulut membasahi kerongkongan!
Abah Syeikh Muhammad Saiful Anwar Zuhri Rosyid (Mudir ‘Aam Ponpes Salafiyah Az-Zuhri Ketileng Semarang) berkenan mengirimkan pesan-pesan singkat (SMS) kepada beberapa Kakang Santri untuk mengajaknya bangun dari tidur dan bersama-sama menghidupkan Qiyamu-Lail dengan memperbanyak amalan sholat, dzikir, wirid, dsb.
Selanjutnya, berikut ini adalah beberapa petikan pesan-pesan singkat beliau diatas yang berhasil dirangkum oleh Kang Dullah Ichwan untuk dibagikan kepada segenap pembaca sekalian. Semoga bermanfaat, dan mudah-mudahan kita semua mampu memetik hikmah serta pelajaran, dengan harapan proses perubahan positif ikut mewarnai semua sendi-sendi perikehidupan kita. Amien! ^_^
4 konsep Keluarga Muslim yang bahagia :
  • Istri yang Sholehah.
  • Anak yang patuh.
  • Mukholatoh (bergaul) dengan orang-orang Sholeh.
  • Cari Maisyah (mata pencaharian) di daerah/wilayahnya sendiri.
    1. Semoga kita termasuk golongan yang sedikit, yaitu : Golongan orang2 yang bersyukur.
    2. Jangan kau tanya apa yang kau peroleh dari lingkunganmu, tapi sebaik-baik kamu adalah yang bermanfaat bagi orang lain –di lingkunganmu!
    3. Siapapun yang ada dihadapanmu, anggaplah dia lebih baik darimu!
    4. Jangan engkau sesali kalau tidak mendapatkan, tapi sesalilah kenapa engkau tidak bisa memberi!
    5. Apalah arti kehormatan, apabila engkau tidak bisa menghormati sesuatu?
    6. Siapapun orangnya pasti butuh kasih sayang dan penghormatan, berikanlah itu dan kau takkan rugi sedikitpun!
    7. Keberhasilan adalah awal dari kekurangan!
    8. Sesuatu yang diawali dengan fasilitas pasti akan bergantung pada fasilitas, maka mulailah sesuatu dengan kemampuanmu sendiri!
    9. Kaki, tangan dan akalmu itu sendiri adalah modal, kenapa harus bingung mencarinya kesana-kemari?
    10. Jangan kau berandai-andai menghasilkan suatu pekerjaan, tapi yang penting saat ini adalah kau mau memulai sesuatu!
    11. Betapa bodohnya aku selama ini, memilah-milih pekerjaan segampang itu. Sementara dari kanan-kiriku bermacam-macam pohon telah berbuah sesuai jenisnya, ternyata -apapun itu- karena keseriusan dan ketekunan pasti akan membuahkan hasil!
    12. Jangan kau iri dengan seribu kenikmatan yang dimiliki orang lain, tapi syukurilah kenikmatan yang kau terima hari ini walaupun hanya satu!
    13. Jangan kau kecewa jika mendapat kaktus yang berduri dan ulat yang berbulu menjijikan, kelak kaktus berduri itu mulai berbunga dan ulat telah berubah menjadi kupu-kupu yang cantik, maka hanya ada satu kata : Bersabarlah, karena tidak ada suatu pekerjaan yang sia-sia!
    14. Jika melakukan sesuatu janganlah sekali-kali engkau berorientasi pada hasil, tapi orientasilah pada kerja, kau akan maju dan sukses!
    15. Kita belum tahu pasti akan datangnya esok hari, betapa ruginya hari ini kalau kau sia-siakan!
    16. Jangan tunda pekerjaanmu, tapi ayunkan langkahmu; langkah hari ini!
    17. Apalah arti hari esok apabila hari ini tidak kau persiapkan?
    18. Yakinkah engkau kalau hari ini ataupun esok masih ada? Oleh karena itu, lakukanlah yang terbaik hari ini!
    19. Jangan tunda esok hari, apa yang bisa kau kerjakan hari ini!
    20. Janganlah engkau lihat kemegahan dan keberhasilan hari ini, tapi lihatlah untaian proses yang diperjuangkan sebelumnya!
    21. Tempaan tumpukan kegagalan-kegagalanmu yang lalu adalah awal dari keberhasilanmu di segala bidang!
    22. Apa yang terjadi pada dirimu itu adalah garis hidup, maka janganlah kau sesali tapi jagalah dan lakukan yang terbaik pasti kau akan sampai di tujuan!
    23. Hari ini adalah masa depanmu, maka jangan kau sia-siakan!
    24. Apa yang kau peroleh hari ini bukanlah kebetulan, melainkan rangkaian dari proses yang kau usahakan kemarin.
    25. Berbahagialah orang yang tidak mengharap, karena dia tidak pernah kecewa apabila gagal!
    26. Hidupmu saat ini adalah ’Siroth’-mu, maka terima dan lakukanlah yang terbaik!
    27. Apa yang kau inginkan itu belum tentu kebutuhanmu, dan apa yang kau inginkan belum tentu juga baik bagimu!
    28. Tak ada nilai seagung kemerdekaan, tapi ingatlah kemerdekaan adalah awal dari seribu perjuangan!
    29. Semua manusia bersalah, namun berbahagialah bagi orang–orang yang mau bertaubat!
    30. Semua manusia memiliki kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang mau bertaubat. Taubat itu mudah, namun sebaik-baik taubat adalah perubahan!
    31. Janganlah kau lihat seribu kesalahan orang lain, tapi bertaubatlah terhadap satu kesalahan yang kau perbuat!
    32. Jangan kau mempermainkan waktu, karena pada hakikatnya justru dialah yang mempermainkanmu!
    33. Jangan kau merasa puas permainkan masa mudamu, tapi menangislah karena kau telah dipermainkan oleh waktu! Ketahuilah, waktu itu amat kejam dan tak mau kompromi!
    34. Semua orang mempunyai lagu kenangan, bukan karena indah dan merdunya lagu tersebut melainkan karena indahnya kenangan saat itu.
    35. Jangan kau tanya siapa orang itu, tapi lihatlah siapa teman dan musuhnya, maka kau akan mengenali siapa dia sebenarnya!
    36. Lebih baikkah kau hari ini dibanding hari kemarin dan kebaikan apa yang akan kau kerjakan hari ini?
    37. Jangan kau tanyakan apa yang aku peroleh, tapi tanyakanlah apa yang telah aku lakukan atau kerjakan!
    38. Renungan : Benarkah kita sudah Islam (Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat, Haji)?
    39. Keberhasilan dan kemenangan adalah bukan dengan banyaknya memasukkan gol, melainkan disaat peluit akhir bertandingan ditiup!
    40. Masak setiap hari kita hanya begini terus tidak ada perubahan? Ayo, siapa ikut dengan Abah bareng-bareng Qiyamu-Lail!
    41. Laki-laki sekalipun seribu kali ternoda, dunia akan tetap tertawa. Sebaliknya, wanita ternoda meski hanya satu kali, maka dunia akan menangis.
    42. Ingatlah, hidup di dunia ini tidak ada yang sia-sia dan batal, maka berpikirlah ulang seribu kali sebelum kau melakukan sesuatu!
    43. Lebih baik kau datang lebih awal dan menunggu, daripada kau datang terburu-buru tapi terlambat!
    44. Jangan kau tanyakan berapa sisa umurmu, tapi kebaikan apa yang telah kau lakukan selama ini?
    45. Jangan sekali-kali kau melupakan masa lalumu, tapi jangan pula kau selalu berkutat dengan masa lalu!
    46. Tanyakanlah pada dirimu sendiri, dimana Al-Qur’an-mu kau taruh, berapa ayat yang telah kau baca setiap harinya?
    47. Masih adakah sesuatu yang bisa kuberikan pada orang lain pada hari ini?
    48. Betapa bahagia dan bangganya apabila kau bisa memberikan sesuatu yang kau idam-idamkan kepada orang lain.
    49. Pada dasarnya setiap manusia mempunyai sifat taat dan patuh, tapi hanya kepada Allah-lah taat dan patuh berhak dilakukan!
    50. Bahaya kata-kata terletak pada susunan indah kalimatnya, maka hati-hatilah engkau apabila mendengar kata-kata indah yang keluar dari mulut seseorang!
    51. Semakin aku banyak tahu masalah agama semakin banyak aku berbuat dzolim, karena semakin aku tak sanggup melakukannya!
    52. Janganlah kau membangun Istana di awang-awang!
    53. Boleh kau sampaikan ajakan-ajakan kebaikan dan amal sholeh, tapi tanyakanlah dulu pada dirimu sendiri kebaikan apa yang telah kau lakukan?
    54. Belajarlah dengan apa saja yang kau lihat dan dengan siapa saja yang kau temui!
    55. Kepintaran seseorang hakekatnya tidak sesuai dengan apa yang telah ia lakukan.
    56. Jadilah kau di siang hari bagaikan pasukan perang, dan di malam hari bagaikan pendeta/pertapa!
    57. Benarkah diriku ini adalah aku?
    58. Tatkala kau masih mengharapkan, biasakanlah kau memberi!
    59. Bagaimana aku bisa tertawa sementara nun jauh disana Saudara-saudaraku belum makan karena kemiskinan…
    60. Tatkala kau sedang makan, ingatlah Saudara2mu nun jauh disana sedang kelaparan, tatkala kau tertawa terbahak-bahak, ingatlah nun jauh disana Saudara2mu sedang menangis duka. Pikirkan dan renungkanlah dalam-dalam apa yang kau peroleh dan apa yang kau dapatkan Saudaraku!
    61. Semakin aku bertanya semakin aku tidak tahu, ternyata kebodohan tidak bisa diatasi dengan bertanya tapi dengan belajar dan belajar!
    62. Alangkah ruginya diriku tatkala didepanku sebuah buku tapi kusia-siakan tanpa aku membacanya!
    63. Apa yang ada dihadapanmu bacalah, niscaya kebodohanmu berkurang satu Saudaraku!
    64. Tatkala aku merasa tahu, maka semakin kusadari betapa bodohnya aku!
    65. Bukan banyaknya ilmu yang kau capai, tapi berapa banyak ilmu yang telah kau amalkan hari ini!
    66. Tanyalah pada dirimu sendiri: Berbohongkah kalau kau berbicara? Menepatikah kalau kau berjanji? Khianatkah bila kau dipercaya seseorang dalam hidupmu?
    67. Ya Allah, semakin aku banyak menerima nikmat-nikmat-Mu, semakin aku malu memohon anugerah rohmat maghfiroh-Mu!
    68. Ya Allah, tatkala aku mau tidur, kusadari betapa kotornya diriku diharibaan-Mu. Karena ketika aku bangun tidur, dosa apalagi yang akan kulakukan hari ini?
    69. Selama perjalanan kuperhatikan semua pohon daunnya menunduk kebawah, dan aku tersadar betapa congkak dan pongahnya aku untuk menundukkan kepala kepada-Mu, Ya Allah!
    70. Ya Allah, tatkala kumohon kepada-Mu, kusadari betapa malu diriku tak bisa mensyukuri nikmat-Mu!
    71. Ya Allah, seandainya aku menghitung nikmat yang telah Kau berikan kepadaku, niscaya aku takkan sanggup menghitung terima kasihku pada-Mu!
    72. Ya Allah, semakin aku berdzikir pada-Mu, betapa kecilnya diriku dan tak ada harganya sama sekali!
    73. Semakin aku tahu diriku semakin kutahu kekurangan dan kelemahanku, bahwa aku sadar betapa kecil dan lemahnya diriku tanpa-Mu.
    74. Setelah kulihat sekelilingku betapa indah dan hebatnya diriku, tapi kusadar betapa tindakan-tindakanku dihadapan-Mu, Ya Allah!
    75. Betapa miskinnya aku, betapa bodohnya aku, betapa dzolimnya aku, betapa kotornya aku, betapa, betapa… betapa diriku dihadapan-Mu, Ya Allah!
    76. Sering aku melihat kedzoliman dimana-mana, bahkan disekelilingku! Tapi ternyata kulihat betapa dzolimnya aku! Kenapa aku tidak bisa melihat kedzoliman yang kulakukan sendiri?
    77. Aku pernah berpikir dan sungguh kumerasa teramat malu, ternyata selama ini belum ada satupun ibadahku yang benar, apalagi ikhlas!
    78. Semakin aku lama hidup di dunia semakin kusadari aku tak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan orang lain!
    79. Aku selalu ingin dihargai dan dihormati orang lain, tapi tragisnya sulit sekali bagiku untuk menghargai dan menghormati orang lain!
    80. Keberhasilan adalah awal kekuranganmu!
    81. Musuhmu adalah sahabatmu dipihak yang lain, tapi sahabatmu adalah calon musuhmu yang amat berbahaya!
    82. Tanyakanlah pada dirimu sendiri, hari ini tambah kebaikan apa dan kejelekan apa yang berkurang?
    83. Bakti apa yang yang telah kau berikan kepada persada kedua orang tuamu yang telah membesarkan dan mencintaimu selama ini?
    84. Kutersentak dari lamunan ternyata betapa dzolimnya diriku selama ini, aku lupakan kakak, adik dan teman-temanku dikampung sana!
    85. Tatkala aku bertanya pada diri sendiri berapa sisa umurku, betapa terperanjatnya karena begitu cepat ajalku akan tiba, dan itu tidak bisa ditawar lagi!
    86. Dengan cinta kau akan bijak dalam menentukan langkah hidupmu!
    87. Dua masalah yang aku sering lupa dan berat melakukannya, yaitu: mengucapkan terima kasih dan memohon maaf kepadamu.
    88. Kebaikan apa yang telah kau lakukan hari ini, kejelekan apa yang akan kau kurangi esok hari!
    89. Tatkala kau merasa diri yang paling penting dan berkuasa, maka orang lainpun tidak ada artinya sama sekali dihadapanmu!
    90. Tatkala kau merasa pintar dan tak mau belajar lagi, maka sejak saat itu pula kau mulai bodoh!
    91. Alangkah indahnya tatkala kulihat orang-orang tersenyum, maka tebarkanlah senyummu dengan siapa saja!
    92. Rumahku adalah surgaku, dan aku amat bahagia tatkala tamuku pergi meninggalkan rumahku dengan senyum!
    93. Tebarkanlah senyummu, sebarkanlah maafmu, berikanlah kasih sayangmu, tapi jangan kau mengharap balasan!
    94. Maafkanlah diriku karena kusadari kebaikanku tak ada, dan kesalahanku terlampau banyak!
    95. Jangan sekali-kali kau katakan kebaikanmu, tapi tanyakanlah kejelekan dan kekuranganmu!
    96. Sampai seberapa jauhkah kau selamatkan dan kau bimbing dirimu sendiri?
    97. Pernahkah kita berpikir bahwa apa yang kita peroleh hari ini adalah murni bukan dari hasil usaha kita sendiri?
    98. Apalah arti kepapaan bagi orang yang akrab dengan penderitaan, tapi sungguh hal tersebut berat sekali dirasakan bagi orang yang tidak pernah mengalami penderitaan!
    99. Tatkala engkau sedang menasehati orang lain, ingatlah bahwa salah satu dari ’orang lain’ itu adalah dirimu sendiri!
    100. Betapa bodohnya aku ini, terhadap diri sendiripun aku tidak tahu dan tidak bisa mengambil hikmah serta iktibarnya

Habib Luthfi bin Yahya: Punya Andil Apa Kalian Untuk Merah Putih? Tolong Jangan Kecewakan Leluhur


Rais Aam Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya mengingatkan kepada semua pihak khususnya umat Islam di Indonesia untuk mewaspadai upaya pembusukan dan pengembosan dari dalam yang merongrong NKRI.


Menurut Habib M Luthfi, bagaimana mereka (pihak yang melakukan pembusukan) itu membuat hoax agar tidak mempercayai pemerintah, tidak percaya dengan TNI/Polri, tokoh ulama nya dan sehingga dampaknya akan fatal seperti yang terjadi di Syuriah.

“Jika ini merata maka akan terjadi seperti di Syuriah, akibat cara-cara pembusukan,” kata Habib Luthfi.

Hal itu disampaikannya saat memberikan tausiyah kebangsaan di Monas, Minggu kemarin.

"Ini akan mudah digembosi, Indonesia bisa dibagi menjadi berapa ? 6 atau 9 ?," tanya Habib Luthfi lagi.

Dia kembali menegaskan apakah rela negeri mu ini terpecah belah, dan ia pun mengajak umat Islam untuk menunjukkan jaga persatuan dan kesatuan Indonesia.

Dia menambahkan bahwa Merah Putih berkibar di Indonesia bukanlah sebuah hadiah melainkan berdarah penuh perjuangan oleh para ulama, para tokoh bangsa Indonesia.

“Apakah kita akan menjadi bangsa yang memalukan para beliau. Jawab dengan tegas,” tandasnya.



Sumber : Muslim Moderat

Sultan Rindu Jogja yang damai



Yogyakarta adalah “nagari paling penak, rasane koyo swarga”. Setidaknya, begitulah kelompok musik Jogja Hip-Hop Foundation mendefinisikan kota ini dalam lagu “Jogja Istimewa”.

Banyak orang yang mengamini pernyataan itu. Penduduknya yang ramah, deretan sekolah dan kampus-kampus megah, jajanan dan kos-kosan yang murah—meski tetap selalu menyajikan pengalaman yang meriah—menjadikan rindu selalu lekat bagi mereka yang pernah singgah.


Sayangnya, semakin ke sini, pengalaman itu semakin pelit. Perkaranya bermula dari beberapa hal: milisi sipil semakin menguat, kebencian yang tak kunjung disikat, dan kesadaran hidup rukun dan saling menerima tak lagi dapat tempat.

Minggu pagi, 11 Februari 2018, publik Jogja dibikin kaget karena jemaat gereja St Lidwina di Trihanggo, Gamping, Sleman, Yogyakarta diserang oleh seorang pemuda. Si penyerang, dengan sebilah pedang sepanjang satu meter, masuk dan mengamuk ketika ibadah misa berlangsung di dalam gereja. Empat orang mengalami luka-luka karenanya, termasuk sang pastur.

Tentu, ini adalah preseden yang buruk bagi kehidupan keberagaman di Indonesia, lebih-lebih Yogyakarta. Kota ini lagi-lagi menjadi cermin bagi kita bahwa meningkatnya kehendak dan ekspresi keagamaan belum diiringi dengan semangat toleransi yang memadai. Kejadian ini menambah daftar panjang kekerasan berbasis agama yang terjadi di Yogyakarta.

Akhir bulan lalu, 29 Januari 2018, Ormas Front Jihad Islam (FJI) membubarkan paksa acara bakti sosial yang diselenggarakan Gereja Katolik Santo Paulus Pringgolayan, Banguntapan, Bantul. FJI menuding acara bakti sosial itu sebagai upaya kristenisasi. Padahal, acara itu merupakan peringatan catur windu (32 tahun) Gereja Katolik Santo Paulus.

Masih jelas juga di ingatan ketika pertengahan tahun lalu, 10 Mei 2017, ratusan orang datang berkumpul membawa lilin di Tugu Yogya. Aksi damai itu merupakan dukungan untuk Basuki Tjahaja Purnama yang divonis dua tahun penjara. Di tengah-tengah aksi damai, puluhan orang hendak menyerang massa aksi. Oleh polisi, enam orang ditangkap karena ditengarai sebagai provokator. Sebelum pengepungan itu, ancaman disebar lewat grup-grup Whatsapp. Sentimen agama Basuki Tjahaya Purnama dan kasus penistaan agama dipakai kelompok penyerang untuk membubarkan aksi damai itu meski akhirnya digagalkan pihak kepolisian.


Setahun sebelumnya, 24 Februari 2016, FJI mengepung pondok pesantren waria yang diasuh Shinta Ratri. FJI menilai pesantren itu tidak sesuai dengan nilai dan akidah Islam. Mereka memaksa pesantren dibubarkan. Karena tekanan tersebut, pondok pesantren yang berada di Kotagede ini akhirnya ditutup. Padahal, pesantren ini sudah berdiri sejak 2008. FJI adalah kelompok yang sama pernah membubarkan kemah yang diikuti 1500-an pemuda kristiani di Wonogondang, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta pada 5 Januari 2015.

Di tahun yang sama, 14 Juli 2015, Gereja Baptis Indonesia Saman di Sewon, Bantul, dikepung oleh ormas. Mereka menuntut gereja tersebut ditutup karena izin mendirikan bangunan yang belum terbit. Minggu depannya, tepatnya 20 Juli 2015, pintu gereja tersebut dibakar oleh orang tidak dikenal.

Dilansir dari data laporan yang dimiliki LBH Yogyakarta, terdapat beberapa rumah ibadah lain yang juga mendapat perlakuan serupa. Selain kasus soal pendirian patung Yesus di Gereja Katolik daerah Pajangan di Bantul, terdapat pula penolakan Taman Gua Maria di Gunungkidul, serta penolakan Gereja Saman di Bantul, dan penolakan IMB pendirian kantor Klasis.

Dirunut lagi ke belakang, 29 Mei 2014, jemaat Santo Fransiscus Agung Gereja Banteng di Ngaglik yang sedang melakukan kebaktian di rumah Julius Felicianus diserang oleh sekelompok orang bersenjata tajam. Tujuh orang menjadi korban karena kejadian ini.

Diskusi buku pun tak lepas dari serbuan milisi-milisi sipil. Kala itu, 9 Mei 2012, Irshad Manji yang datang mengisi diskusi bukunya Allah: Liberty and Love di LKiS Yogyakarta tak diduga-duga diserang oleh dua ratusan orang dari Majlis Mujahidin Indonesia (MMI).

Membaca kembali kejadian-kejadian ini tidak bisa tidak merupakan kesedihan. Padahal, kekerasan sipil karena beberapa isu lain—seperti klitih, komunisme, rasisme, dan LGBT–masih tak kalah banyak.

Sayangnya, daftar hitam yang semakin memanjang ini hanyalah menjadi angka. Semacam ada simplifikasi kalau kejadian ini adalah murni kriminalitas belaka. Unsur sosiologis dan diskriminasi identitas dan keyakinan seperti ditanggalkan dalam melihat peristiwanya.

Walhasil banyak orang santai saja melihat kejadian demi kejadian. Bahkan, pemerintah sempat tak percaya kalau wajah Yogya sudah sedemikian merah. Tidakkah ini sebuah pertanda bahwa dialog dan kampanye keberagaman harus terus dilakukan agar daftar kekerasan ini tak bertambah panjang?

Saya sendiri cemburu pada KLa Project yang selalu menemukan “tiap sudut bersahabat, penuh selaksa makna” pada tahun 1991 di Yogyakarta. Kini, lagu legendarisnya itu masih sering diperdengarkan, meski sejatinya kondisi tak lagi sama.

Kasus penyerangan yang terjadi di gereja St Lidwina di Trihanggo Gamping Sleman kemarin adalah sebuah tamparan bertubi-tubi untuk pemerintah kota Yogyakarta agar tidak melakukan pembiaran terhadap oknum atau ormas intoleran yang gemar menebar benci dan amuk massa.

Jujur, kami rindu Jogja yang damai, Sultan.. (ISNU)

Ditulis oleh Aziz Dharma, pegiat di Islami Institute Jogja.

Sumber: Islami.co

KH.Abdulloh Dimyathi Bengkah,Wonosekar (1862-1943M)

IMNUDEMAK – Sosok yangg zuhud,waro’sederhana,penuh tawakkal, sosok yg suka riadloh tidak pernah makan nasi..hanya makan kunir. Beliau adalah putra ke 4 dari raden KH.Sanusi karanggondang Grobogan, Jawa Tengah (Keturunan dari kerajaan Demak) beliau adalah KH.Abdulloh Dimyathi
Masa mudanya menimba ilmu di pesantren LANGITAN teman akrab beliau kala itu adalah KH.IBROHIIM /pengasuh ponpe s ibroohiimiyyah brumbung mranggen,Beliau adalah pejuang penyebar agama islam di dukuh Bengkah, wonosekar, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak.
Menjadikan dukuh bengkah yg insyaaAlloh akan selalu adem ayem dan penuh berkah, yang insyaaAlloh atas berkah beliau mejadikan Bengkah bagai gudangnya orang Alim yg akan terus melahirkan generasi2 yg alim dan akan terlihat nampak bagai bintang di kala orang tersebut hidup di luar bengkah(boleh di surfai dan buktikan..sudah banyak orang2 alim dari bengkah yg menetap di luar bengkah..mereka bagai lentera/bintang yg terus bersinar dan menerangi,baik orang2 tersebut ahli di bidang Alquran/huffadz maupun ahli di bidang ilmu agama lainnya baik di bidang hadist fiqh dll. hal itu karena berkah hasil riadloh beliau penuh prihatin dalam memimirkan umat dan selalu mengutamakan ummat.
Beliau mendirikan sebuah masjid yg bernama AL-AAMIIN dan  Pondok pesantren yg mana pesantren tersebut di era modern oleh Dzurriyahnya di beri nama “AD-DIMYAATHIYYAH”
Legenda cerita masyarakat:
Konon bengkah adalah desa yg wingit/angker,banyak dedemit,jin setan gundul atau apalah namanya,oleh beliu – beliau  makhluk – makhluk tersebut di lumpuhkan dan di masukkan ke dalam kranjang dan di buang/di pindahkan dan desa bengkah kala itu tiap malam selau di adzani oleh beliau
Beliau mempunyai macan (bisa di bilang bukan sembarang macan) karena macan tersebut yg menghantar beliau untuk bepergian,
Pada jaman penjajah desa bengkah adalah desa yang tak mampu di teropong oleh penjajah,
Dan konon termasuk cerita dari romo kulo piambak,konon orang2 giri banyak yg mengunsi ke bengkah.

kramat beliau sebetunya banyak..namun sedikit cerita keramat beliau yg pernah saya saksikan sendiri di era modern..di atas makam beliau kala itu .(.sebelum di bangun seperti sekarang)ada batang kayu yg sangat besar kira- kira umpama batang kayu tersebut patah akan mengenai rumah maqom..karena melihat bobot dan jarak yg sangat deket dengan atap maqom.namun kersane gustiiii  suatu hari batang pohon patah dan tidak sedikitpun mengenai rumah maqom bahkah agak sangat jauh jatuh nya dari rumah maqom (wallohu a’lamu)
***********
Demikian sedikt cerita ttg beliau dan desa Bengkah..tak lain dan tak bukan semoga kita mendapat kesababan berkah beliau. tepat hari ini pondok addimyaathiyyah sedang mengadakan acara,penulispun ikut berupaya sedkit menguak kisah beliau dan desa bengkah supaya generasi2 di jaman now menjadi tahu AN tidak lupa akan sejarah.

Jangan tunggu Rumah terbakar, untuk menjadi pahlawan

Di akhir tahun 1998 Gus Dur rawuh (datang) di Wonosobo. Saat itu sedang ramainya era reformasi, beberapa bulan setelah Pak Harto jatuh. Dan ini terjadi beberapa bulan sebelum Gus Dur menjadi orang nomer satu di Negeri ini. Beliau masih menjabat sebagai Ketua PBNU.

Bertempat di Gedung PCNU Wonosobo, Gus Dur mengadakan pertemuan dengan pengurus NU dari Wonosobo, Banjarnegara, Pubalingga, Kebumen, Temanggung dan Magelang. Tentu saja semua kiai ingin tahu pendapat Gus Dur tentang situasi politik terbaru. Penulis hadir di situ walaupun bukan kiai, dan duduk persis di depan Gus Dur. Penulis lah yang menuntun Gus Dur menaiki Lantai 2 PCNU Wonosobo.
“Pripun Gus situasi politik terbaru?” tanya seorang kiai.
“Orde Baru tumbang, tapi Negeri ini sakit keras.” kata Gus Dur.
“Kok bisa Gus?”
“Ya bisa, wong yang menumbangkan Orde Baru pakainya emosi dan ambisi tanpa perencanaan yang jelas. Setelah tumbang mereka bingung mau apa, sehingga arah reformasi gak genah. Bahkan Negeri ini di ambang kehancuran, di ambang perang saudara. Arah politik Negeri ini sedang menggiring Negeri ini ke pinggir jurang kehancuran dan separatisme. Lihat saja, baru berapa bulan Orde Reformasi berjalan, kita sudah kehilangan propinsi ke-27 kita, yaitu Timor Timur.” kata Gus Dur.
Kiai tersebut sebagaimana biasa, kalau belum mulai bicara. Pak Habibi, kita semua akan merasa kasihan dengan sikap Gus Dur yang datar dan seperti capek sekali dan seperti aras-arasen bicara. Tapi kalau sudah mulai, luar biasa memikat dan ruangan jadi sepi kayak kuburan, tak ada bunyi apapun selain pangendikan Gus Dur.
Seorang kiai penasaran dengan calon presiden devinitif pengganti Pak Habibi yang hanya menjabat sementara sampai sidang MPR. Ia bertanya: “Gus, terus siapa yang paling pas jadi Presiden nanti Gus?”
“Ya saya, hehehe…” kata Gus Dur datar.
Semua orang kaget dan menyangka Gus Dur guyon seperti biasanya yang memang suka guyon.
“Yang bisa jadi presiden di masa seperti ini ya hanya saya kalau Indonesia gak pingin hancur. Dan saya sudah dikabari kalau-kalau saya mau jadi presidan walau sebentar hehehe…” kata Gus Dur mantab.
“Siapa yang ngabari dan yang nyuruh Gus?” tanya seorang kiai.
“Gak usah tahu. Orang NU tugasnya yakin saja bahwa nanti presidennya pasti dari NU,” kata Gus Dur masih datar seperti guyon.
Orang yang hadir di ruangan itu bingung antara yakin dan tidak yakin mengingat kondisi fisik Gus Dur yang demikian. Ditambah lagi masih ada stok orang yang secara fisik lebih sehat dan berambisi jadi presiden, yaitu Amin Rais dan Megawati. Tapi tidak ada yang berani mengejar pertanyaan tentang presiden RI.
Kemudian Gus Dur menyambung: “Indonesia dalam masa menuju kehancuran. Separatisme sangat membahayakan. Bukan separatismenya yang membahayakan, tapi yang memback up di belakangnya. Negara-negara Barat ingin Indonesia hancur menjadi Indonesia Serikat, maka mereka melatih para pemberontak, membiayai untuk kemudian meminta merdeka seperti Timor Timur yang dimotori Australia.”
Sejenak sang Kiai tertegun. Dan sambil membenarkan letak kacamatanya ia melanjutkan: “Tidak ada orang kita yang sadar bahaya ini. Mereka hanya pada ingin menguasai Negeri ini saja tanpa perduli apakah Negeri ini cerai-berai atau tidak. Maka saya harus jadi presiden, agar bisa memutus mata rantai konspirasi pecah-belah Indonesia. Saya tahu betul mata rantai konspirasi itu. RMS dibantu berapa Negara, Irian Barat siapa yang back up, GAM siapa yang ngojok-ojoki, dan saya dengar beberapa propinsi sudah siap mengajukan memorandum. Ini sangat berbahaya.”
Kemudiaan ia menarik nafas panjang dan melanjutkan: “Saya mau jadi presiden. Tetapi peran saya bukan sebagai pemadam api. Saya akan jadi pencegah kebakaran dan bukan pemadam kebakaran. Kalau saya jadi pemadam setelah api membakar Negeri ini, maka pasti sudah banyak korban. Akan makin sulit. Tapi kalau jadi pencegah kebakaran, hampir pasti gak akan ada orang yang menghargainya. Maka, mungkin kalaupun jadi presiden saya gak akan lama, karena mereka akan salah memahami langakah saya.”
Seakan mengerti raut wajah bingung para kiai yang menyimak, Gus Dur pun kembali selorohkan pemikirannya. “Jelasnya begini, tak kasih gambaran,” kata Gus Dur menegaskan setelah melihat semua hadirin tidak mudeng dan agak bingung dengan tamsil Gus Dur.
“Begini, suara langit mengatakan bahwa sebuah rumah akan terbakar. Ada dua pilihan, kalau mau jadi pahlawan maka biarkan rumah ini terbakar dulu lalu datang membawa pemadam. Maka semua orang akan menganggap kita pahlawan. Tapi sayang sudah terlanjur gosong dan mungkin banyak yang mati, juga rumahnya sudah jadi jelek. Kita jadi pahlawan pemyelamat yang dielu-elukan.”
Kemudian lanjutnya: “Kedua, preventif. Suara langit sama, rumah itu mau terbakar. Penyebabnya tentu saja api. Ndilalah jam sekian akan ada orang naruh jerigen bensin di sebuah tempat. Ndilalah angin membawa sampah dan ranggas ke tempat itu. Ndilallah pada jam tertentu akan ada orang lewat situ. Ndilalah dia rokoknya habis pas dekat rumah itu. Ndilalalah dia tangan kanannya yang lega. Terus membuang puntung rokok ke arah kanan dimana ada tumpukan sampah kering.”
Lalu ia sedikit memajukan duduknya, sambil menukas: “Lalu ceritanya kalau dirangkai jadi begini; ada orang lewat dekat rumah, lalu membuang puntung rokok, puntung rokok kena angin sehingga menyalakan sampah kering, api di sampah kering membesar lalu menyambar jerigen bensin yang baru tadi ditaruh di situ dan terbakarlah rumah itu.”
“Suara langit ini hampir bisa dibilang pasti, tapi semua ada sebab-musabab. Kalau sebab di cegah maka musabab tidak akan terjadi. Kalau seseorang melihat rumah terbakar lalu ambil ember dan air lalu disiram sehingga tidak meluas maka dia akan jadi pahlawan. Tapi kalau seorang yang waskito, yang tahu akan sebab-musabab, dia akan menghadang orang yang mau menaruh jerigen bensin, atau menghadang orang yang merokok agar tidak lewat situ, atau gak buang puntung rokok di situ sehingga sababun kebakaran tidak terjadi.”
Sejenak semua jamaah mangguk-mangguk. Kemudian Gus Dur melanjutkan: “Tapi nanti yang terjadi adalah, orang yang membawa jerigen akan marah ketika kita cegah dia naruh jerigen bensin di situ: “Apa urusan kamu, ini rumahku, bebas dong aku naruh di mana?” Pasti itu yang akan dikatakan orang itu.”
“Lalu misal ia memilih menghadang orang yang mau buang puntung rokok agar gak usah lewat situ, Kita bilang: “Mas, tolong jangan lewat sini dan jangan merokok. Karena nanti Panjenengan akan menjadi penyebab kebakaran rumah itu.” Apa kata dia: “Dasar orang gila, apa hubungannya aku merokok dengan rumah terbakar? Lagian mana rumah terbakar?! Ada-ada saja orang gila ini. Minggir! saya mau lewat.”
Kini makin jelas arah pembicaraannya dan semua yang hadir makin khusyuk menyimak. “Nah, ini peran yang harus diambil NU saat ini. Suara langit sudah jelas, Negeri ini atau rumah ini akan terbakar dan harus dicegah penyebabnya. Tapi resikonya kita tidak akan popular, tapi rumah itu selamat. Tak ada selain NU yang berpikir ke sana. Mereka lebih memilih: “Biar saja rumah terbakar asal aku jadi penguasanya, biar rumah besar itu tinggal sedikit asal nanti aku jadi pahlawan maka masyarakat akan memilihku jadi presiden.”
“Poro Kiai ingkang kinormatan.” kata Gus Dur kemudian. “Kita yang akan jadi presiden, itu kata suara langit. Kita gak usah mikir bagaimana caranya. Percaya saja, titik. Dan tugas kita adalah mencegah orang buang puntung rokok dan mencegah orang yang kan menaruh bensin. Padahal itu banyak sekali dan ada di banyak negara. Dan pekerjaan itu secara dzahir sangat tidak popular, seperti ndingini kerso. Tapi harus kita ambil. Waktu yang singkat dalam masa itu nanti, kita gak akan ngurusi dalam Negeri.”
“Kita harus memutus mata rantai pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka di Swiss, kita harus temui Hasan Tiro. Tak cukup Hasan Tiro, presiden dan pimpinan-pimpinan negara yang simpati padanya harus didekati. Butuh waktu lama,” lanjut Gus Dur.
“Belum lagi separatis RMS (Republik Maluku Sarani) yang bermarkas di Belanda, harus ada loby ke negara itu agar tak mendukung RMS. Juga negara lain yang punya kepentingan di Maluku,” kata Gus Dur kemudian.
“Juga separatis Irian Barat Papua Merdeka, yang saya tahu binaan Amerika. Saya tahu anggota senat yang jadi penyokong Papua Merdeka, mereka membiayai gerakan separatis itu. Asal tahu saja, yang menyerang warga Amerika dan Australia di sana adalah desain mereka sendiri.”
Kemudian Gus Dur menarik nafas berat, sebelum melanjutkan perkataan berikutnya. “Ini yang paling sulit, karena pusatnya di Israel. Maka, selain Amerika saya harus masuk Israel juga. Padahal waktu saya sangat singkat. Jadi mohon para kiai dan santri banyak istighatsah nanti agar tugas kita ini bisa tercapai. Jangan tangisi apapun yang terjadi nanti, karena kita memilih jadi pencegah yang tidak populer. Yang dalam Negeri akan diantemi sana-sini.”
Sekonyong beliau berdiri, lalu menegaskan perkataan terakhirnya: “NKRI bagi NU adalah Harga Mati!”
“Saya harus pamit karena saya ditunggu pertemuan dengan para pendeta di Jakarta, untuk membicarakan masa depan negara ini. Wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…” tutup Gus Dur.
Tanpa memperpanjang dialog, Gus Dur langsung pamit. Kita bubar dengan benak yang campur-aduk, antara percaya dan tidak percaya dengan visi Gus Dur. Antara realitas dan idealitas, bahwa Gus Dur dengan sangat tegas di hadapan banyak kiai bahwa dialah yang akan jadi presiden. Terngiang-ngiang di telinga kami dengan seribu tanda tanya.
Menghitung peta politik, rasanya gak mungkin. Yang terkuat saat itu adalah PDIP yang punya calon mencorong Megawati putri presiden pertama RI yang menemukan momentnya. Kedua, masih ada Partai Golkar yang juga Akbar Tanjung siap jadi presiden. Di kelompok Islam modern ada Amien Rais yang juga layak jadi presiden, dan dia dianggap sebagian orang sebagai pelopor Reformasi.
Maka kami hanya berpikir bahwa, rasional gak rasional, percoyo gak percoyo ya percoyo aja apa yang disampaikan Gus Dur tadi. Juga tentang tamsil rumah tebakar tadi. Sebagian besar hadirin agak bingung walau mantuk-mantuk karena gak melihat korelasinya NU dengan jaringan luar negeri.
Sekitar 3 bulan kemudian, Subhanallah… safari ke luar ternyata Gus Dur benar-benar jadi Presiden. Dan Gus Dur juga benar-benar bersafari ke luar negeri seakan maniak plesiran. Semua negara yang disebutkan di PCNU Wonosobo itu benar-benar dikunjungi. Dan reaksi dalam negeri juga persis dugaan Gus Dur saat itu bahwa Gus Dur dianggap foya-foya, menghamburkan duit negara untuk plesiran. Yang dalam jangka waktu beberapa bulan sampai 170 kali lawatan. Luar biasa dengan fisik yang (maaf) begitu, demi untuk sebuah keutuhan NKRI.
Pernah suatu ketika Gus Dur lawatan ke Paris (kalau kami tahu maksudnya kenapa ke Paris). Dalam negeri, para pengamat politik dan politikus mengatakan kalau Gus Dur memakai aji mumpung. Mumpung jadi presiden pelesiran menikmati tempat-tempat indah dunia dengan fasilitas negara.
Apa jawab Gus Dur: “Biar saja, wong namanya wong ora mudeng atau ora seneng. Bagaimana bisa dibilang plesiran wong di Paris dan di Jakarta sama saja, gelap gak lihat apa-apa, koq dibilang plesiran. Biar saja, gitu aja koq repot!”
Masih sangat teringat bahwa pengamat politik yang paling miring mengomentrai lawatan Gus Dur sampai masa Gus Dur lengser adalah Alfian Andi Malarangeng, mantan Menpora. Tentu warga NU gak akan lupa sakit hatinya mendengar ulasan dia. Sekarang terimalah balasan dari Tuhan.
Satu-satunya pengamat politik yang fair melihat sikap Gus Dur, ini sekaligus sebagai apresiasi kami warga NU, adalah Hermawan Sulistyo, atau sering dipanggil Mas Kiki. terimakasih Mas Kiki.
Kembali ke topik. Ternyata orang yang paling mengenal sepak terjang Gus Dur adalah justru dari luar Islam sendiri. Kristen, Tionghoa, Hindu, Budha dll. mereka tahu apa yang akan dilakukan Gus Dur untuk NKRI ini. Negeri ini tetap utuh minus Timor Timur karena jasa Gus Dur. Beliau tanpa memikirkan kesehatan diri, tanpa memikirkan popularitas, berkejaran dengan sang waktu untuk mencegah kebakaran rumah besar Indonesia.
Dengan resiko dimusuhi dalam negeri, dihujat oleh separatis Islam dan golongan Islam lainnya, Gus Dur tidak perduli apapun demi NKRI tetap utuh. Diturunkan dari kursi presiden juga gak masalah bagi beliau walau dengan tuduhan yang dibuat-buat. Silakan dikroscek data ini. Lihat kembali keadaan beberapa tahun silam era reformasi baru berjalan, beliau sama sekali gak butuh gelar “Pahlawan”